RADAR MALANG - Kemampuan menguasai Bahasa Prancis membawa pengalaman baru bagi AKP Aditya Permana. Pada 2022 lalu dia bertugas di Republik Afrika Tengah. Berikut kisahnya.
AKP Aditya Permana pernah tergabung dalam delegasi Korps Garuda Bhayangkara di Formed Police Unit (FPU) United Nations (UN) Peacekeeping. Perwira yang kini menjabat sebagai Kasat Reskoba Polres Malang itu bertugas di Republik Afrika Tengah pada 2022 lalu.
Sebelum bergabung dalam misi internasional tersebut, ada proses pendaftaran yang harus dia jalani. Itu dilakukan pada 2020 lalu. Kala itu Adit menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Bantul, Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
”Yang diutamakan harus bisa bahasa Prancis karena memang negara tujuannya menggunakan bahasa itu,” terang dia. Setelah dinyatakan lolos, dia harus menjalani Latihan Pra Operasional (Latpraop) dan pemantapan kemampuan pada 2022. Lokasinya di Pusat Misi Internasional Polri, Serpong, Tangerang Selatan.
Perwira berusia 33 tahun itu berangkat ke Bangui, ibu kota Republik Afrika Tengah pada bulan September 2022. Di sana, dia menjabat sebagai Kasi Logistik dan Misi Satgas Indonesia FPU UN Peacekeeping. Adit berada di sana sekitar satu tahun.
”Tugas Satgas Indonesia itu melakukan pengawalan dan penjagaan suplai makanan, amunisi, kantor PBB dan tamu VVIP. Juga ada kegiatan charity di sana,” beber dia. Kedatangan dia bersama pasukan garuda lainnya dimaksudkan untuk membantu menstabilkan kondisi negara asal diktator Jean Bedel Bokassa.
Perang sipil masih bergejolak di sana sampai sekarang. Motifnya yakni perebutan kekuasaan. Pemerintah setempat bersama PBB melawan sekitar empat grup pemberontak di negara tersebut. Karena bertugas di bagian logistik dan misi, Aditya tidak terlibat dalam operasi yang berbahaya. ”Kami diposisikan di Bangui. Yang banyak pergolakan ada di luar ibu kota,” sebut dia. Berada di Afrika Tengah selama setahun, ada banyak kesan yang didapat Aditya. ”Di sana warga lebih banyak pakai lampu teplok untuk penerangan. Untuk kebutuhan air banyak yang membuat sumur, namun keluarnya air kotor,” kata Aditya.
Kegiatan rutin berupa donor darah di kantor PBB menjadi salah satu yang cukup berkesan baginya. Sebagai perwira Polri, dia tentu terbiasa mengikuti kegiatan tersebut. Tapi ketika di Bangui, dia merasa ngeri untuk ikut. Pasalnya, hampir semua alat yang digunakan masih manual.
”Untuk menghambat laju darah itu pakai karet ban yang diikat di tangan. Darah masuk ke kantong itu dibantu pompa dari kayu yang diinjak. Modelnya seperti mesin jahit zaman dulu,” imbuh dia. Karena berada di negara termiskin keempat di dunia, kemiskinan menjadi pemandangan harian. Dampaknya, angka kriminalitas di sana menjadi tinggi. Beberapa rekannya ada yang kehilangan barang karena dicuri warga di sana. (biy/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana