Radar Malang - Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden AS 2024 memicu tanggapan kuat dari berbagai kelompok di Timur Tengah, termasuk Hamas, Hizbullah, dan Iran.
Mereka menyampaikan berbagai reaksi atas terpilihnya Trump untuk masa jabatan kedua, terutama terkait kebijakan AS terhadap Israel dan Timur Tengah.
Selama kampanye, Trump berulang kali menyatakan bahwa ia dapat menghentikan konflik Gaza dalam “hitungan jam” jika terpilih kembali sebagai presiden.
Baca Juga: Israel Tambah Serangan ke Lebanon, Begini Kondisi Terakhir Perang Hamas vs IDF
Kini, pejabat senior Hamas, Sami Abu Zuhri, mengingatkan Trump untuk membuktikan ucapannya.
Pejabat senior Hamas, Sami Abu Zuhri, menyatakan bahwa Partai yang kalah karena kebijakan mereka yang "kriminal" terhadap Gaza.
Abu Zuhri menantang Trump untuk menepati janji kampanyenya yang menyebut bisa menghentikan perang dalam hitungan jam.
Hamas menegaskan bahwa mereka akan menilai Trump berdasarkan tindakan nyata pemerintahannya terhadap Palestina, bukan hanya dari retorika.
Baca Juga: Israel Bunuh Komandan Hamas, PM Netanyahu: Ini Baru Awalnya
Hizbullah, kelompok milisi Lebanon yang terlibat konflik dengan Israel, merespons kemenangan Trump dengan skeptisisme.
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyatakan bahwa hasil pemilu AS tidak akan mempengaruhi posisi mereka di medan perang.
"Kami memiliki puluhan ribu pejuang yang siap berperang," ujarnya, sembari menegaskan bahwa mereka tidak menggantungkan harapan pada perubahan politik AS.
Di sisi lain, Iran mengambil sikap tegas terhadap hasil pemilu AS.
Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, menyatakan bahwa Iran siap menghadapi segala konsekuensi kebijakan AS di bawah kepemimpinan Trump.
Menurutnya, tidak ada perbedaan antara Trump dan lawannya, Kamala Harris, dalam hal kebijakan terhadap Iran.
Mohajerani menekankan bahwa Iran sudah kebal terhadap sanksi dan siap menghadapi tekanan ekonomi yang mungkin diperketat kembali.
Dengan kemenangan Trump ini semakin menyoroti ekspektasi dunia terhadap upaya AS dalam meredakan ketegangan di Timur Tengah, terutama dalam konflik yang melibatkan sekutunya, Israel. (rie)
Editor : Aditya Novrian