Radar Malang – DeepSeek, aplikasi chatbot AI yang berasal dari China, baru-baru ini mencuri perhatian industri teknologi.
Model terbaru, DeepSeek-R1 mengalami lonjakan popularitas yang menjadi aplikasi paling banyak diunduh di berbagai negara.
Amerika Serikat dan Inggris, mencapai 1,6 juta kali unduhan sejak diperkenalkan pada Januari 2025 lalu.
Baca Juga: AI: Teman atau Musuh di Masa Depan?
CEO DeepSeek mengungkapkan peningkatan performa model ini sebanding dengan teknologi AI terkemuka seperti OpenAI dan Google.
Perusahaan tersebut berhasil mengembangkan model terbaru ini dengan biaya sekitar $5,6 juta, jauh lebih rendah dari investasi miliaran dolar perusahaan besar di AS.
Kenaikan permintaan DeepSeek-R1 berdampak signifikan pada pasar saham, di mana nilai saham Nvidia menurun drastic hingga $600 miliar.
Baca Juga: TikTok Menjadi Aplikasi yang Menyenangkan sekaligus Membahayakan Jika Digunakan Tanpa Kebijaksanaan
Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor tentang potensi penurunan permintaan untuk chip canggih.
Meskipun DeepSeek mendapatkan respon positif tetapi isu keamanan dan privasi juga muncul.
Ada kekhawatiran mengenai kepatuhan kepada regulasi pemerintah China dan kemungkinan pengiriman data pengguna ke luar negeri.
Baca Juga: Paul McCartney Menyuarakan Kekhawatiran Perubahan Kebijakan Hak Cipta AI bagi Seniman
Direktur pemasaran DeepSeek menegaskan bahwa mereka berkomitmen untuk menjaga keamanan data pengguna.
Dengan optimisme tinggi, DeepSeek berharap dapat terus berkembang dan bersaing di pasar global AI yang semakin kuat. (Tiw)
Editor : Aditya Novrian