Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kamus Malangan: Jebung

Fathoni Prakarsa Nanda • Sabtu, 15 Februari 2025 | 18:50 WIB
Grafis Lingua Franca Kampus Malangan. (RADAR MALANG)
Grafis Lingua Franca Kampus Malangan. (RADAR MALANG)

ISTILAH jembung sudah jarang digunakan masyarakat saat ini.

Sebelum tahun 2000, istilah yang merujuk ke cangkir besar berbahan tanah liat itu cukup banyak ditemui.

Sebagian warga Malang juga ada yang menyebutnya dengan istilah jebug untuk menggambarkan cangkir besar (mug) berbahan logam, meski istilah itu juga memiliki arti buah pinang tua.

Dalam beberapa referensi, jembung merupakan mug yang mampu menampung air sebanyak 350 milliliter atau setara 2 cangkir air normal.

Biasanya digunakan untuk menyeduh minuman yang kadang tidak habis dalam sekali minum.

Alias bisa dinikmati berlama-lama.

Dulu jembung dibuat dari bahan bambu atau tanah liat.

Di Malang Raya, jembung berbahan tanah masih ditemukan hingga awal tahun 2000-an.

Pada saat yang sama sudah banyak mug besar berbahan logam dengan warna motif blirik atau doreng.

Tapi masyarakat masih terbiasa menggunakan istilah jembung atau pun jebug.

Kini, istilah cangkir lebih sering digunakan, meski berbeda dalam hal ukuran dengan jembung.

Pudarnya penggunaan kata tersebut seiring dengan menghilangnya mug tanah liat tersebut dari peredaran perkakas dapur.

Hanya tinggal beberapa saja yang masih memproduksi, tapi lebih banyak dijadikan hiasan atau cangkir khusus kafe bertema heritage. (biy/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#jebung #kamus malangan #malang