Kebakaran hutan yang melanda Korea Selatan sejak 21 Maret 2025 telah menjadi salah satu bencana terbesar dalam sejarah Korea Selatan.
Kebakaran ini tercatat sebagai yang terburuk ketiga setelah kebakaran hutan di Pantai Timur pada tahun 2000 dan kebakaran di Uljin pada 2022.
Api yang melalap kawasan hutan di berbagai wilayah, termasuk Uiseong, telah menyebabkan ribuan orang mengungsi dan menelan korban jiwa yang signifikan.
Baca Juga: Rupiah Terpuruk! Sentuh Level Terendah Sejak Krisis 1998, Ada Apa?
Menurut laporan setempat, kebakaran ini telah memaksa ribuan warga untuk meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.
Hingga saat ini, sedikitnya 18 orang telah dilaporkan meninggal dunia akibat kebakaran tersebut.
Para korban terdiri dari penduduk lokal, tiga orang petugas pemadam kebakaran yang berjuang melawan kobaran api, serta seorang pegawai pemerintah.
Baca Juga: Mengapa Revisi UU TNI Menuai Sorotan? Pelajaran dari Kasus Marsinah
Kebakaran ini tidak hanya mengancam kehidupan manusia, tetapi juga merusak ekosistem hutan yang luas.
Asap tebal menyelimuti daerah terdampak, mengganggu kualitas udara dan membahayakan kesehatan masyarakat
Selain itu, infrastruktur publik seperti Kuil Gounsa yang sudah berusia ribuan tahun hangus terbakar.
Baca Juga: Dua Prajurit TNI AL Divonis Penjara Seumur Hidup atas Penembakan Bos Rental Mobil
Upaya pemadaman api masih berlanjut, pemerintah Korea Selatan mengerahkan para pasukan pemadam kebakaran termasuk helikopter dan alat berat untuk memadamkan api.
Menurut Lee Byung-doo, seorang pakar bencana hutan dari Institut Ilmu Kehutanan Nasional Korea Selatan, kebakaran hutan di Uiseong baru berhasil dipadamkan sekitar 68 persen.
Kebakaran hutan yang terjadi di Korea Selatan ini menjadi pengingat akan besarnya dampak bencana alam terhadap manusia, lingkungan, dan warisan budaya.
Upaya pemadaman terus dilakukan, namun kondisi cuaca yang tidak mendukung membuat prosesnya semakin sulit.
Para pihak yang terlibat berusaha dengan maksimal untuk memerangi kebakaran yang dipicu oleh angin kencang dan cuaca kering tersebut.
Langkah pencegahan serta peningkatan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan perlu diperkuat agar tragedi serupa tidak kembali terulang. (nai)
Editor : Aditya Novrian