Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ekspor Kabupaten Malang Tembus Rp 7,73 T, Kota Malang dan Kota Batu Perlu Penguatan

Fathoni Prakarsa Nanda • Jumat, 11 April 2025 | 19:56 WIB
Grafis Kinerja Ekspor di Malang Raya
Grafis Kinerja Ekspor di Malang Raya

MALANG RAYA – Kinerja ekspor tertinggi masih menjadi milik Kabupaten Malang jika dibandingkan dengan dua daerah lain di Malang Raya. Tahun lalu nilainya mencapai Rp 7,7 triliun.

Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang, hingga saat ini terdapat 80 pelaku usaha yang aktif melakukan ekspor.

Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kabupaten Malang Kamilin menyebut ada 41 komoditas yang rutin diekspor.

Sepuluh di antaranya merupakan komoditas andalan.

Seperti rokok, kopi, mebel, kertas rokok, plywood, alkohol, udang, tekstil, cengkih dan tembakau, serta susu.

“Jika ditotal, nilai ekspor pada 2024 sekitar USD 460,13 juta (setara Rp 7,73 triliun dengan kurs Rp 16.800),” ujar Kamilin kemarin (10/4).

Per triwulan, rata-rata ekspor dari Kabupaten Malang mencapai 45-50 ton untuk masingmasing komoditas.

Total ekspor pada 2024 lalu mencapai 52.586 ton.

Hingga saat ini, sasaran ekspor paling utama masih di sekitar Asia dan Eropa.

Antara lain Armenia, Bangladesh, Mesir, Prancis, Georgia, Hongkong, India, Irak, Italia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Taiwan, Pakistan, Singapura, Uni Emirat Arab, Inggris, Amerika, Filipina, Afghanistan, dan Pakistan.

Sebagai contoh, ekspor keripik singkong oleh PT Airafood Sejahtera Bersama mencapai 1 kontainer dengan berat 1.416 kilogram senilai Rp 52,39 juta.

Makanan ringan tersebut dikirim ke Korea Selatan pada Agustus 2024 lalu.

Kamilin menambahkan, pihaknya berupaya meningkatkan ekspor melalui penguatan pelaku usaha.

Khususnya bagi yang masih skala kecil, seperti Industri Kecil Menengah (IKM).

“Mereka kami fasilitasi dengan pembinaan dan pengembangan produk unggulan,” ujarnya.

Pemkab Malang juga membentuk tim peningkatan dan percepatan ekspor.

Tim itu terdiri dari perusahaan eksportir, instansi terkait, UMKM dan IKM yang memiliki produk unggulan.

Khusus Disperindag berperan dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan ekspor.

Salah satunya mengadakan pameran sebagai sarana promosi produk unggulan.

Menurun di Kota Malang Sementara itu, nilai ekspor Kota Malang tahun lalu tercatat sekitar Rp 50 miliar.

Menurun jika dibandingkan dengan tahun 2023 yang mencapai Rp 303,74 miliar.

Jumlah eksportir juga menurun dari 47 pelaku usaha menjadi 12 pelaku usaha.

Kepala Bidang Perdagangan Diskopindag Kota Malang Ni Luh Eka Putu Wilantari mengatakan, ada beberapa komoditas yang dikirim ke luar negeri dari Kota Malang.

Misalnya produk nabati, produk olahan, produk kerajinan, hingga aneka minuman.

Jika ditotal, nilai ekspor sepanjang tahun 2024 mencapai USD 2,977,572.92 atau setara dengan Rp 50 miliar (kurs Rp 16.810).

“Tahun 2024 memang ada penurunan jumlah pelaku usaha, sehingga berpengaruh terhadap nilai ekspor,” kata Eka, kemarin (10/4). Pada 2023, negara yang menjadi sasaran ekspor juga lebih banyak, mencapai 37 negara.

Seperti Arab, Austria, Australia, Bangladesh, Kanada, Switzerland, China, Republik Cekoslovakia, Spanyol, Hongkong, Israel, Italia, Japan, Korea, Kuwait, dan Vietnam.

Sementara tahun 2024 hanya 11 negara.

Antara lain Belgia, Amerika Serikat, German, Korea, dan China.

Penurunan ekspor itu terjadi karena para pelaku usaha masih membutuhkan penguatan dan pembinaan.

Karena itu, pihaknya berusaha melakukan fasilitasi, utamanya kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Kepala Diskopindag Kota Malang Eko Sri Yuliadi menjelaskan, banyak komoditas maupun produk dari pelaku usaha asal Kota Malang yang kini diminati luar negeri.

Misalnya daun pisang.

“Daun pisang ada yang dikirim ke Australia dan Selandia Baru. Di sana digunakan untuk perlengkapan memasak. Ada juga ekspor pelet kayu ke Korea Selatan,” terangnya.

Alarm Triwulan Pertama Kota Batu juga perlu mewaspadai tanda-tanda penurunan kinerja ekspor.

Pada triwulan pertama tahun ini tercatat sekitar Rp 160 juta.

Menurun jika dibandingkan dengan triwulan pertama 2024 yang mencapai Rp 942 juta.

Ekspor dari Kota Batu memang sempat naik signifikan pada 2024 lalu.

Nilainya Rp 6,2 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2023 yang hanya Rp 1,5 miliar.

Catatan nilai ekspor tiap triwulan pada 2024 juga terus menunjukkan tren peningkatan.

Dari Rp 942 juta pada triwulan I, meningkat menjadi Rp 1,246 miliar pada triwulan II, Rp 1,72 miliar pada triwulan III, dan Rp 2,3 miliar pada triwulan IV.

Kepala bidang (Kabid) Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu Kota Batu Nurbianto Puji mengatakan, capaian pada triwulan pertama 2024 hanya disumbang satu eksportir.

Yakni produsen keripik buah dan sayur pada Maret lalu.

Jumlahnya satu kontainer atau 2.500 kilogram dengan nilai ekspor Rp 160 juta menuju Singapura.

Dia berharap tren peningkatan permintaan tiap triwulan pada 2024 akan kembali terjadi pada tahun ini.

Tahun lalu, triwulan pertama hanya ada ekspor satu kontainer. Kemudian meningkat menjadi 3-5 kontainer.

Permintaan didominasi oleh keripik apel, stroberi, nangka dan buah naga.

Permintaan ekspor tanaman hias atau bunga petik juga cukup tinggi.

Tahun lalu, Kota Batu berhasil mengekspor sekitar 10 ribu pot tanaman hias yang nilainya mencapai Rp 2,3 miliar.

“Negara tujuan ekspor masih didominasi negara-negara di Asia, seperti Singapura dan Jepang,” ucap pria yang akrab disapa Kentor itu.

Menurutnya, dalam setahun kegiatan ekspor di Kota Batu menyentuh angka 20 feet atau berkisar 30 ton.

Rata-rata per triwulan mencapai 6 sampai 7 ton.

“Kalau tahun ini masih wait and see, karena biasanya permintaan meningkat pada pertengahan tahun,” tutur dia.

Wali Kota Batu Nurochman menambahkan, agribisnis Kota Batu memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional.

Dengan beragam produk yang ada, pembeli di pasar ekspor sejauh ini sudah menunjukkan respons yang baik dan mau membuat kontrak.

Pria yang akrab disapa Cak Nur itu berharap kegiatan ekspor dapat memotivasi UMKM untuk turut mengambil kesempatan.

Salah satunya dengan membentuk forum UMKM ekspor guna menularkan ilmu para pemilik usaha lain. Dengan begitu, produk Kota Batu dapat dikenal lebih luas lagi.

“Tak hanya menguntungkan pengusaha, tapi petani juga turut merasakan dampaknya,” tandasnya. (yun/mel/ori/fat)

Editor : A. Nugroho
#Kota Batu #Malang Raya #Ekspor #Kabupaten Malang #malang kota #Kinerja