RADAR MALANG - Kabar duka menyelimuti umat Katolik di seluruh dunia. Paus Fransiskus, pemimpin spiritual Gereja Katolik Roma, wafat pada usia 88 tahun di kediamannya di Casa Santa Marta, Vatikan, Senin pagi (21/4) waktu setempat. Ia mengembuskan napas terakhir hanya sehari setelah tampil di hadapan ribuan umat di Lapangan Santo Petrus untuk menyampaikan pesan Paskah terakhirnya.
Meninggalnya Paus Fransiskus pada Hari Paskah dianggap sebagai momen simbolis penuh makna oleh banyak umat Katolik. “Dia [Tuhan] memilih hari yang paling indah bagi Gereja Katolik,” ujar Pastor Sergio Codera, seorang imam Salesian dari Spanyol. Baginya, wafatnya Paus di hari kebangkitan Yesus adalah pesan spiritual bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan awal baru yang penuh harapan.
Baca Juga: Duka Dunia: Vatikan Jelaskan Penyebab Wafatnya Paus Fransiskus
Kardinal Kevin Joseph Farrell menyampaikan kabar wafatnya Paus Fransiskus dengan penuh haru. “Seluruh hidupnya didedikasikan untuk melayani Tuhan dan Gereja-Nya,” ungkapnya. Dalam pernyataannya, ia juga menegaskan dedikasi Paus Fransiskus dalam memperjuangkan nilai-nilai Injil dan kepeduliannya terhadap kaum miskin serta kelompok termarjinalkan.
Paus Fransiskus dikenal sebagai pemimpin revolusioner yang membawa banyak reformasi dalam Gereja Katolik. Ia adalah Paus pertama yang berasal dari Amerika Selatan dan juga satu-satunya anggota ordo Yesuit yang pernah menjabat sebagai Paus. Meskipun progresif, ia tetap mendapat tempat di hati umat Katolik tradisional.
Baca Juga: Gereja Ijen Gelar Doa Bersama untuk Paus Fransiskus
Sebelum Fransiskus, Gereja Katolik dipimpin oleh Paus Benediktus XVI, yang mengundurkan diri secara sukarela pada tahun 2013, sebuah keputusan yang belum pernah terjadi selama hampir enam abad terakhir. Pengunduran dirinya menandai era baru di mana dua Paus sempat hidup berdampingan di dalam tembok Vatikan.
Lantas, bagaimana proses pemilihan Paus berikutnya? Setelah wafatnya seorang Paus, para kardinal dari seluruh dunia akan berkumpul dalam sebuah konklaf di Kapel Sistina, Vatikan. Mereka akan melakukan pemungutan suara secara tertutup untuk memilih pengganti. Hanya kardinal di bawah usia 80 tahun yang memiliki hak suara.
Dalam suasana penuh doa dan kontemplasi, para kardinal akan mengadakan pemungutan suara setiap hari hingga satu kandidat berhasil meraih dua pertiga suara. Ketika Paus baru terpilih, asap putih akan mengepul dari cerobong Kapel Sistina sebagai pertanda bahwa Gereja telah memiliki pemimpin baru.
Sejak Santo Petrus, paus pertama dalam sejarah Gereja Katolik, hingga Fransiskus, total telah ada 266 Paus yang memimpin umat Katolik di seluruh dunia. Masing-masing meninggalkan jejak sejarah, teologi, dan semangat kepemimpinan yang membentuk wajah Gereja hingga hari ini.
Kini dunia menanti suara lonceng sukacita berikutnya, tanda hadirnya penerus takhta Santo Petrus. Umat Katolik di berbagai belahan dunia berdoa, berharap, dan bersiap menyambut pemimpin baru dengan semangat iman yang diwariskan oleh pendahulunya. (my)
Editor : Aditya Novrian