Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Membangkitkan Pasar Tradisional

A
Penulis: Aditya Novrian❯
Kolom Pak Mbois Wahyu Hidayat
Kolom Pak Mbois Wahyu Hidayat

Advertisement

Wahyu Hidayat

Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak akan pernah terwujud tanpa didahului oleh peristiwa 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Utomo adalah peristiwa yang menandai munculnya kesadaran bersama dan perasaan senasib sepenanggungan sebagai bangsa terjajah.

Ini pula yang 20 tahun kemudian melahirkan Sumpah Pemuda sebagai milestone lanjutan dari kemerdekaan bangsa ini. Bahwa untuk meraih kemerdekaan, tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Daerah per daerah. Suku per suku. Golongan per golongan. Melainkan, semua harus bersatu padu. Dan untuk itu harus ada pengorbanan. Termasuk, mengorbankan ego.

Advertisement

Hari ini, 118 tahun sudah usia peristiwa yang menandai kebangkitan nasional tersebut. Hampir seusia dengan Kota Malang yang tahun ini memasuki 112 tahun. Dan, salah satu tujuan dari kemerdekaan yang dihasilkannya adalah memajukan kesejahteraan umum. Yakni, menciptakan keadilan sosial dan ekonomi. Meratakan pembangunan agar seluruh rakyat bisa merasakan kehidupan yang layak, makmur, dan sejahtera.

Inilah yang ingin saya garisbawahi. Dalam konteks Kota Malang, memajukan kesejahteraan umum bisa ditempuh dengan membangkitkan kembali pasar-pasar tradisional. Ini adalah denyut paling dasar dari ekonomi rakyat.

Pasar tradisional bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang hidup ekonomi masyarakat kecil, tempat perputaran uang harian terjadi secara nyata. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut pasar tradisional sebagai fondasi dasar perekonomian dan cerminan ekonomi kerakyatan di Indonesia.

Advertisement

Karena itu, kondisi pasar tradisional sering menjadi alat ukur kesehatan ekonomi suatu daerah. Ketika pasar ramai, daya beli masyarakat biasanya meningkat. Sebaliknya, ketika pasar sepi, perlambatan ekonomi segera terasa.

Di Indonesia, konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung ekonomi nasional. Data BPS menyebut, kontribusinya secara konsisten mencapai sekitar 54 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Data terbaru, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen year on year (yoy). Sedangkan sepanjang 2025 secara kumulatif mencapai 5,11 persen. Kontribusi terbesarnya berasal dari konsumsi rumah tangga.

Belanja masyarakat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dari sisi pengeluaran. Melampaui investasi, ekspor, maupun belanja pemerintah. Karena itu, ekonom peraih Nobel Joseph Stiglitz menilai, ekonomi lokal yang sehat harus bertumpu pada aktivitas masyarakat bawah dan distribusi ekonomi yang hidup.

Advertisement

Artikel Terkait

Energi Perubahan Menuju Kota Mbois Berkelas

Energi Perubahan Menuju Kota Mbois Berkelas

Moh. Yamin dan W.R. Supratman sama-sama baru berusia 25 tahun ketika Kongres Pemuda II berlangsung. Kasman Singodimejo baru 24 tahun, Johanes Leimena baru 23 tahun, Amir Sjarifuddin Harahap baru 21 tahun, sedangkan Moham

Nilai-Nilai Santri In This Economy

Nilai-Nilai Santri In This Economy

Tahun ini bukan tahun yang mudah bagi siapa saja. Tidak yang di pemerintahan, tidak pula yang di luar pemerintahan. Tidak pejabat, tidak pula rakyat biasa serta pengusaha. In this economy, kata anak-anak muda sekarang, t

Kolom Pak Mbois: Pancasila, Pasar Tradisional, dan Ekonomi Kerakyatan

Kolom Pak Mbois: Pancasila, Pasar Tradisional, dan Ekonomi Kerakyatan

81 TAHUN lalu, dua bulan sebelum proklamasi kemerdekaan bangsa dibacakan, Ir Soekarno menyampaikan rumusannya tentang lima prinsip dasar negara. Lima prinsip yang digalinya dari pandangan hidup, nilai-nilai, dan akar bud

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer