Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Nilai-Nilai Santri In This Economy

A
Penulis: Aditya Novrian❯
Kolom Pak Mbois Wahyu Hidayat
Kolom Pak Mbois Wahyu Hidayat

Advertisement

Tahun ini bukan tahun yang mudah bagi siapa saja. Tidak yang di pemerintahan, tidak pula yang di luar pemerintahan. Tidak pejabat, tidak pula rakyat biasa serta pengusaha. In this economy, kata anak-anak muda sekarang, tidak ada yang terasa ringan. 

Situasi ini tidak bisa dilepaskan dari geopolitik internasional yang sedang diwarnai ketegangan dalam beberapa tahun terakhir. Konflik Rusia-Ukraina, Amerika-China, serta Amerika-Israel-Iran telah menyebabkan efek domino ke hampir seluruh negara di dunia. Tidak terkecuali Indonesia. 

Sementara, di dalam negeri, kebijakan efisiensi menuntut siapa saja untuk lebih kreatif dalam mengatur anggaran. Skala prioritas harus dibuat. Kreativitas dalam mencari sumber-sumber pendapatan baru harus digenjot. 

Advertisement

Daya tahan terhadap situasi krisis adalah kuncinya. Dan, mereka yang terbiasa dengan situasi krisislah yang cenderung memiliki daya tahan lebih tinggi. Sehingga selalu ada jalan keluar untuk bertahan atau bahkan bangkit dari situasi tersebut. 

Berbicara tentang hal ini, rasanya, santri adalah salah satu rujukan yang terbaik. Clifford Geertz ketika menulis The Religion of Java (1960), mendefinisikan santri secara antropologis. Yaitu, kelompok masyarakat yang memiliki orientasi keagamaan (Islam) lebih kuat dengan basis mata pencaharian pedagang, pengrajin, atau petani. Mereka juga terhubung dengan kiai, masjid, dan pesantren. 

Dalam definisi umum, santri adalah mereka yang pernah mengenyam pendidikan dan kehidupan pesantren. Dan, pesantren adalah model pendidikan long life education. Pendidikan di pesantren bukan hanya sebatas dalam kelas. Tetapi, berlangsung penuh 24 jam dalam bimbingan langsung kiai sebagai figur sentral. 

Advertisement

Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid, menyebut pesantren sebagai subkultur. Ada norma, nilai, dan tradisi tersendiri yang hidup di dalam pesantren. Seperti kesederhanaan, kemandirian, serta kepatuhan terhadap kiai, di samping tentu saja kepatuhan dalam menjalankan ajaran-ajaran agama. 

Pada nilai kesederhanaan, misalnya, itu relevan dengan keharusan efisiensi yang musti dilakukan saat-saat sekarang. Mereka yang tidak terbiasa hidup sederhana, efisiensi adalah tantangan tersendiri. Tidak mudah untuk dilakukan. 

Santri, terbiasa hidup bersahaja. Dalam hal pangan, sandang, maupun papan. Dalam hal pangan, bukan hanya tidak terbiasa berlebihan dengan aneka lauk istimewa, mereka bahkan sudah terbiasa untuk berpuasa. Sehingga, makan sehari sekali bukanlah sesuatu yang aneh. Kalaupun bisa makan lebih dari sekali sehari, mengutip Cak Nun alias Emha Ainun Najib yang pernah menjadi santri Gontor, sekadar lauk tempe seringkali hanya cita-cita alias belum tentu kesampaian. 

Dalam hal sandang, sama saja. Tidak ada kebiasaan untuk berlebihan. Apalagi bergelimang kemewahan. Pada pesantren salaf, sarung, kopiah, hem, dan sandal adalah pakaian sehari-hari yang sudah memenuhi standar kepantasan. Demikian pula pada pesantren modern yang memperbolehkan celana panjang, jas, dasi, kopiah, dan sepatu, tetap sebatas koridor kepantasan dan kesederhanaan. Bukan kemewahan. 

Advertisement

Artikel Terkait

Energi Perubahan Menuju Kota Mbois Berkelas

Energi Perubahan Menuju Kota Mbois Berkelas

Moh. Yamin dan W.R. Supratman sama-sama baru berusia 25 tahun ketika Kongres Pemuda II berlangsung. Kasman Singodimejo baru 24 tahun, Johanes Leimena baru 23 tahun, Amir Sjarifuddin Harahap baru 21 tahun, sedangkan Moham

Kolom Pak Mbois: Pancasila, Pasar Tradisional, dan Ekonomi Kerakyatan

Kolom Pak Mbois: Pancasila, Pasar Tradisional, dan Ekonomi Kerakyatan

81 TAHUN lalu, dua bulan sebelum proklamasi kemerdekaan bangsa dibacakan, Ir Soekarno menyampaikan rumusannya tentang lima prinsip dasar negara. Lima prinsip yang digalinya dari pandangan hidup, nilai-nilai, dan akar bud

Membangkitkan Pasar Tradisional

Membangkitkan Pasar Tradisional

Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak akan pernah terwujud tanpa didahului oleh peristiwa 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Utomo adalah peristiwa yang menandai munculnya kesadaran bersama dan perasaan senasib sepenanggungan sebag

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer