Radar Malang – Seorang mahasiswa dari Universitas Udayana, Bali, berinisial S, diduga membuat dan menyebarkan konten pornografi palsu menggunakan teknologi deepfake.
Wajah puluhan mahasiswi dari berbagai universitas di Indonesia disunting dan ditempelkan pada tubuh dalam adegan pornografi tanpa persetujuan mereka.
Kasus ini mencuat ke publik pada April 2025 setelah sejumlah akun media sosial membongkar keberadaan konten-konten tak senonoh tersebut.
Dalam konten yang tersebar, wajah para korban yang berasal dari kampus seperti Universitas Udayana, Universitas Tarumanagara, hingga Universitas Bunda Mulia dijadikan objek manipulasi digital.
Wajah mereka diambil dari media sosial lalu digabungkan secara realistis ke dalam video atau gambar pornografi.
Pelaku diduga menggunakan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan yang kini mudah diakses publik. Teknologi deepfake memungkinkan pembuatan konten visual palsu yang sulit dibedakan dari aslinya.
Aksi ini dilakukan secara diam-diam, dan kontennya disebarkan melalui jaringan tertutup hingga akhirnya bocor ke publik.
Pihak Universitas Udayana telah mengambil langkah awal dengan membentuk Tim Etik Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Mahasiswa yang bersangkutan telah dinonaktifkan sementara dari kegiatan akademik dan tengah menunggu sidang etik internal.
Sementara itu, Universitas Bunda Mulia yang juga dikaitkan dalam kasus ini disebut belum memberikan keterangan resmi, meski sejumlah korban berasal dari kampus tersebut.
Hingga saat ini, belum ada laporan pidana resmi yang diajukan ke pihak berwenang. Banyak korban memilih diam karena takut terhadap dampak sosial serta penyebaran konten yang lebih luas.
Masyarakat pun mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak, mengingat penyalahgunaan teknologi seperti ini sangat merusak martabat dan privasi individu.
Kasus ini menyoroti pentingnya regulasi yang lebih tegas terhadap penyalahgunaan teknologi AI, khususnya dalam bentuk deepfake pornografi.
Selain itu, perlindungan terhadap korban kejahatan digital masih menjadi tantangan besar di Indonesia. (Rizz)
Editor : Aditya Novrian