MALANG KOTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang mencatat angka inklusi keuangan di Kota Malang sudah mencapai 80 persen.
Sayangnya, angka literasi keuangan hanya berada di kisaran 60 persen.
Itu menunjukkan banyak penduduk memiliki akses terhadap layanan keuangan, tapi kesadaran akan bahaya dan pemahaman keuangannya masih rendah.
Literasi keuangan yang rendah memicu masyarakat mudah terjerat scam atau penipuan.
Baik secara online maupun offline.
Untuk saat ini, kejahatan yang paling banyak terjadi adalah penipuan secara online.
”Angka inklusi keuangan yang besar itu bagus, tapi harus diimbangi dengan literasinya,” ujar Kepala OJK Malang Farid Faletehan.
Dia menjelaskan, salah satu tolok ukur negara maju bisa dilihat dari literasi keuangan.
Semakin maju negara, pemahaman masyarakat terhadap produk dan risiko keuangan makin tinggi dan menyeluruh.
Untuk itu, OJK Malang akan lebih gencar menyebarluaskan literasi keuangan dalam program-programnya.
Sasaran literasi keuangan itu ada empat komponen penting.
Yaitu ibu-ibu, anak muda, para petani dan peternak, serta masyarakat pedesaan.
”Untuk mencapai sistem keuangan yang sehat dan berkelanjutan, peningkatan literasi keuangan menjadi kunci utama,” lanjut pria kelahiran Blora itu.
Literasi keuangan juga akan difokuskan pada pekerja migran, kelompok usia 15–17 tahun, hingga lansia umur 59 tahun ke atas.
Mereka akan diberi pemahaman yang lebih luas tentang keuangan digital agar terhindar dari penipuan.
”Banyak oknum tidak bertanggung jawab yang menawarkan investasi dengan profit yang menggiurkan pada korban yang literasi keuangannya lemah,” terang Farid. (aff/fat)
Editor : A. Nugroho