Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Musim Kemarau Rasa Musim Hujan: Ada Apa dengan Cuaca Malang di Mei 2025?

Aditya Novrian • Rabu, 14 Mei 2025 | 21:50 WIB

Ilustrasi hujan (freepik.com).
Ilustrasi hujan (freepik.com).

RADAR MALANG - Warga Kota Malang dan sekitarnya dibuat bingung dengan cuaca yang terasa "salah musim". Hingga pertengahan Mei 2025, hujan deras masih mengguyur nyaris setiap hari, padahal menurut kalender iklim, seharusnya wilayah ini sudah mulai memasuki musim kemarau. Fenomena ini tak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat: apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan cuaca Malang?

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur, kondisi ini sebenarnya masih dalam batas wajar jika dilihat dari perkembangan musim tahun ini. Awal musim kemarau memang tidak terjadi serentak, melainkan berlangsung bertahap dari Maret hingga Juni tergantung zona musim (ZOM) masing-masing daerah. Di Malang Raya, hanya sebagian wilayah selatan seperti Dampit, Gedangan, Sumbermanjing, dan Tirtoyudo yang sudah mulai memasuki musim kemarau sejak April. Sementara itu, wilayah Kota Malang dan sebagian besar Kabupaten Malang baru akan benar-benar mengalami musim kemarau pada Mei hingga awal Juni. Jadi, tidak heran jika langit masih sering mendung dan hujan turun tanpa diduga.

Baca Juga: BMKG: Pekan Depan di Malang Musim Kemarau tapi Masih Hujan

Namun bukan hanya itu penyebabnya. Cuaca ekstrem yang masih terus berlangsung juga dipicu oleh berbagai fenomena atmosfer global yang tengah aktif melintasi wilayah Indonesia. Salah satunya adalah Madden-Julian Oscillation (MJO), sebuah gelombang besar di atmosfer yang membawa banyak uap air ketika aktif di atas wilayah Indonesia. BMKG menyebut, MJO yang masih aktif di awal Mei ini meningkatkan peluang hujan lebih dari 50% di Jawa Timur, termasuk Malang.

Selain MJO, gelombang atmosfer lain seperti Rossby dan Kelvin juga berkontribusi besar terhadap cuaca yang tak menentu ini. Gelombang-gelombang ini menyebabkan suplai uap air tetap tinggi di atmosfer, sehingga awan hujan mudah terbentuk—meski kalender menunjukkan kita sudah memasuki musim kemarau.

Baca Juga: Musim Kemarau, Tanaman Pakcoy di Pujon Kabupaten Malang Butuh Penyiraman Ekstra

Faktor lokal pun ikut andil. Hujan konvektif, yakni hujan yang terjadi akibat pemanasan matahari di pagi hingga siang hari, menyebabkan udara hangat naik lalu membentuk awan cumulonimbus yang akhirnya menurunkan hujan deras. Hujan jenis ini umumnya turun mendadak, durasinya singkat, tapi intensitasnya bisa sangat tinggi dan sering disertai petir serta angin kencang.

Tak hanya itu, suhu muka laut di sekitar Jawa Timur yang masih hangat juga menjadi sumber uap air yang terus-menerus menyuplai atmosfer. Ditambah lagi, pengaruh aktifnya Monsun Asia, yang membawa angin lembab dari utara, semakin memperkuat potensi hujan di wilayah Malang dan sekitarnya.

Baca Juga: 11 Kecamatan di Kabupaten Malang Waspada Hujan Disertai Angin

BMKG menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari dinamika iklim tropis yang kompleks dan terus berubah. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama terhadap potensi cuaca ekstrem di masa peralihan musim ini. Terutama bagi petani dan pelaku sektor outdoor, memahami cuaca menjadi kunci penting untuk menyesuaikan aktivitas.

Cuaca yang "menipu" ini menjadi pengingat bahwa alam memiliki pola sendiri yang kadang tak sesuai harapan. Maka, sambil menanti musim kemarau datang sepenuhnya, sebaiknya warga Malang tetap siaga, karena meski kalender bilang "kemarau", langit masih bicara lain. (my)

Editor : Aditya Novrian
#BMKG #MJO #cuaca malang raya #hujan deras #musim kemarau #Fenomena Atmosfer