Hasilkan 19 Ribu Ton Per Tahun, Resmi Tutup pada 1936.
Peran penting Kabupaten Malang dalam produksi gula sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda. Dulu, ada empat Pabrik Gula (PG) yang berdiri. Sebelum ada PG Kebonagung dan PG Krebet Baru, ada pabrik di Desa Sempalwadak, Kecamatan Bululawang yang lebih dulu berdiri. Jejak operasionalnya menyisakan satu cerobong asap yang terbengkalai.
Menurut Google Maps, bekas Pabrik Gula (PG) Sempalwadak berada di sisi barat Jalan Rukun, Dusun Jatimulyo, Desa Sempalwadak, Kecamatan Bululawang. Lebih tepatnya di sisi barat Jalan Mayjen Sungkono, Sempalwadak. Dari pengamatan Jawa Pos Radar Malang, kemarin siang (30/6), tidak ada tanda-tanda bekas bangunan tua besar di sana.
Di tepi jalan sisi barat hanya terlihat dua rumah tua dengan papan bertuliskan ’Tanah Milik PG Kebonagung’. Serta, lahan tebu yang sangat lebat di kiri dan kanan bangunan itu. Begitu menyusuri Jalan Sentosa atau jalan menuju lapangan sepak bola Sempalwadak, baru terlihat bekas keberadaan pabriknya.
Letaknya di belakang rumah dinas, dan tersembunyi di balik tanaman tebu. Di sana ada bekas fondasi cerobong asap yang terbuat dari beton. Diperkirakan, tingginya sekitar 6 meter. Dan, memiliki ukuran sekitar 3 x 2 meter. Bangunan itu, tampak terbengkalai dan banyak tanaman liar di sisi atasnya.
Tidak banyak warga di sana mengetahui bahwa dulu ada PG peninggalan Belanda di tepi jalan lintas Kedungkandang (Malang)-Bululawang tersebut. ”Yang saya tahu ini bangunan lama punya Kebonagung. Hanya saya pernah dengar-dengar saja dulu ada pabrik gula,” kata seorang warga di sana yang enggan disebutkan namanya.
Dalam buku Landbouw Universiteit, Wageningen, Belanda berjudul ”Raising Cane: Linkages, Organizations and Negotiations in Malang’s Sugar Industry, East Java” karya Aard J Hartveld tahun 1996, disebutkan bahwa PG Sempalwadak mulai dibangun pada 1890. Dan, mulai beroperasi tahun 1891.
PG-PG lain berdiri beberapa tahun setelah itu. Seperti PG Panggungrejo, Kepanjen yang berdiri pada 1898. Selanjutnya PG Kebonagung di Pakisaji dan Krebet Baru di Bululawang yang baru berdiri tahun 1906.
Disebutkan bahwa dalam masa tersebut, Pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan konsesi kepada empat pengusaha gula asing.
Tepatnya kepada dua pengusaha Belanda, satu asal Georgia, dan satu lagu pengusaha asal China. Mereka diizinkan untuk mendirikan pabrik gula dengan memilih lokasi di Desa Sempalwadak, Krebet, Panggungrejo, dan Kebon Agung. Daerah tersebut dipilih karena cenderung datar dan punya pengairan yang baik karena dilalui Sungai Brantas.
Saat itu, PG Sempalwadak memiliki jaringan lori tebu atau kereta perkebunan sepanjang total 88,5 kilometer. Diperkuat dengan sembilan armada lokomotif uap buatan Orensetin and Koppel, Maffei, Jung asal Jerman dan Dickson asal Amerika Serikat (AS).
Dalam beberapa sumber, disebutkan bahwa PG Sempalwadak juga bekerja sama dengan Malang Stoomtram Maatschapij (MS) dalam hal pengangkutan barang hasil produksi. Perusahaan trem uap swasta itu juga membangun seluruh jalur tremnya antara tahun 1897 sampai 1908.
Dalam peta zaman Belanda, tertera bahwa ada rel trem dengan lebar 1.067 milimeter yang melintang di tengah pabrik dengan luas 4,7 hektare tersebut. Ya, letak PG itu berada di tengah Jalur Trem Malang Jagalan-Gondanglegi-Dampit yang selesai dibangun pada 1899.
Dulu, di sana juga ada memiliki halte atau pemberhentian trem di Sempalwadak. Bekas jalur KA tersebut terletak di samping timur Lapangan Sepak Bola Sempalwadak. Bekas bangunannya sudah tidak ada. Semua telah rata dengan tanah.
Secara produksi, dalam buku disertasi itu disebutkan bahwa produksi gula di Sempalwadak terbilang cukup besar. Antara tahun 1895 sampai 1911, produksinya di bawah 10 ribu ton. Baru mencapai 10 ribu ton pada 1911. Perlahan, dari tahun tersebut sampai 1925, produksinya meningkat. Sampai dengan puncaknya pada 1925 mencapai 19 ribu ton.
Setelah periode itu, produksi gula menurun. Grafik produksi menunjukkan, pada 1930 gula yang dihasilkan turun menjadi 15 ribu ton. Sampai pada 1935, tidak ada kegiatan produksi sama sekali. Antara 1925 sampai 1935, ada ketidakstabilan di kalangan pekerja.
Itu karena banyak pekerja yang tergabung dalam Sarekat Islam (SI), dan sempat terjadi perpecahan menjadi SI merah (Komunis) dan Hijau (Santri). Mengakibatkan pemecatan ratusan pekerja yang tergabung dalam Sarekat Buruh Gula, yang terafiliasi SI Merah.
Setelah 44 tahun, titik terendah PG Sempalwadak berlangsung pada 1935. Saat itu, terjadi resesi ekonomi besar-besaran. Menyebabkan ekspor gula dari Hindia Belanda loyo. PG Sempalwadak dan Panggungrejo, Kepanjen bangkrut dan dibongkar. Pada 1936, firma Deichmann & Vom Rath selaku pemilik PG Sempalwadak menjual aset-aset perkebunan dan rumah dinas yang tersisa ke PG Kebonagung.
Oleh karena itu, tanah di bekas berdirinya PG Sempalwadak bertuliskan milik PG Kebonagung. Sayangnya, pada masa kini, tidak banyak orang PG Kebonagung yang tahu bahwa di aset mereka di Sempalwadak pernah berdiri pabrik.
”Kalau pabrik kami tidak tahu, di sana itu dulu perkebunan kami yang terhubung dengan lori,” kata Rachmadi Iffat, Kepala Personalia dan Umum PG Kebonagung. Kini, rumah-rumah Belanda yang ada di sana menjadi rumah dinas pejabat tinggi PG. Sementara kebun yang tersisa dimanfaatkan sebagai kebun percobaan bibit. (*/by)
Editor : A. Nugroho