KABUPATEN – Polisi masih terus melakukan penyelidikan tragedi meninggalnya pasangan suami istri, Arik Wicaksono, 41, dan Iin Handayani, 39, di Dusun Tegalrejo, Desa Ketindan, Kecamatan Lawang. Dugaan awal, peristiwa itu bermula dari permasalahan rumah tangga. Kemudian berlanjut pada tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diakhiri dengan pembunuhan sekaligus bunuh diri.
Kanit IV Satreskrim Polres Malang Iptu Transtoto Argo Kuncoro menerangkan, dugaan itu diperkuat hasil pemeriksaan luka pada korban perempuan (Iin). Yakni berupa luka tusukan yang berakibat meninggal dunia. ”Kami juga sudah memeriksa saksi-saksi untuk dimintai keterangan,” terang Transtoto.
Kasihumas Polres Malang AKP Bambang Subinanjar menambahkan, pihaknya sudah melakukan olah TKP dan mengamankan beberapa alat bukti. Antara lain dua bilah pisau, seprai dengan bercak darah, serta tiga unit handphone milik korban dan saksi. ”Dugaan sementara memang mengarah pada KDRT yang berujung pembunuhan. Kemudian disusul tindakan bunuh diri pelaku,” pungkas Bambag.
Muncul pula dugaan bahwa Arik melemparkan pisau keluar kamar lewat jendela setelah menusuk istrinya. Hal itu diperkuat temuan polisi berupa pisau berlumuran darah dan gagang pisau merah muda di dekat jendela kamar tempat Iin ditemukan dalam kondisi kritis.
Wartawan Jawa Pos Radar Malang mendapat keterangan langsung dari Kasum, orang tua Iin sekaligus saksi yang pertama kali mengetahui tragedi tersebut. Pria berusia 77 tahun itu menceritakan, dia sempat bertemu dengan Iin pada Selasa pagi (22/7), sekitar 08.30. Saat itu Iin baru pulang selepas mengantar kedua anaknya sekolah.
Di depan rumah, Iin berpamitan kepada ayahnya itu hendak pergi bekerja. Yakni berjualan makanan ringan ke SDN 3 Ketindan. ”Pamit mau berangkat. Dia juga menitipkan pesan untuk membayarkan paket yang akan datang ke rumah atas nama Iin,” kata Kasum kemarin (23/7)
Namun sebelum pergi, Kasum melihat Iin masuk ke dalam rumah untuk mengambil topi. Tanpa curiga, Kasum melanjutkan aktivitasnya memberi makan ayam di sebelah rumah Iin. Sekitar 15 menit berselang, Kasum mengaku mendengar suara wanita seperti dibekap dalam rumah. Dia bergegas masuk ke dalam rumah untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Kasum langsung menuju sumber suara di kamar tengah yang sehari-hari ditempati anak-anak Iin. Begitu masuk kamar, Kasum melihat Iin dalam kondisi mulutnya disumpal kain selimut. ”Matanya terbuka, tapi seperti orang yang tak berdaya. Tubuhnya juga ditutupi selimut,” ujar Kasum
Dalam kondisi panik, Kasum bergegas mencari Arik. Sebab, pagi itu hanya ada Arik dan Iin di dalam rumah. Kasum kemudian mencari ke kamar belakang yang memang biasa digunakan Arik untuk tidur. Matanya langsung tertuju ke atas kasur karena seperti ada orang yang tidur menggunakan selimut. Kasum langsung membuka selimut itu. Ternyata di dalamnya hanya ada tumpukan bantal.
Saat mundur beberapa langkah, kepala Kasum terasa seperti menyentuh benda yang menggantung. Ternyata benda itu adalah kaki Arik yang sudah gantung diri di langit-langit kamar.
Segera saja dia keluar rumah untuk memanggil warga agar bisa menolong Iin dan Arik. Sebagian warga langsung berinisiatif mengangkat tubuh Iin dari posisi tidur ke posisi duduk. Tapi, dari tubuh Iin malah keluar darah.
Ketika selimut yang membungkus tubuh Iin dibuka, terlihatlah beberapa luka terbuka akibat benda tajam. Yakni luka tusuk di dada, perut, tangan, dan paha. Setelah itu Iin kemudian dilarikan warga ke RSUD Lawang. Belum sampai di rumah sakit, Iin sudah mengembuskan napas terakhir.
Sementara itu, jenazah Arik dievakuasi setelah warga melapor ke perangkat desa dan Polsek Lawang. ”Saya hanya mengetahui itu saja,” terang Kasum.
Selasa malam, jenazah Iin sudah diterima oleh Kasum dan keluarganya. Jenazah itu langsung dimakamkan di TPU terdekat pada Rabu pagi (23/7). Sedangkan jenazah Arik diserahkan kepada keluarganya di Blitar.
Kasum mengaku terpukul dan masih tidak percaya atas kejadian tersebut. Saat ini dia hanya ingin fokus membesarkan dua orang cucunya atau anak dari Iin. ”Mohon doanya untuk cucu saya,” ujarnya sambil meneteskan air mata.
Informasi lain menyebutkan, Arik sebenarnya sudah pernah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak dua kali. Selasa lalu merupakan upaya ketiga. Dugaan itu diperkuat dengan temuan berupa bekas tali dan kawat yang berada di lokasi gantung diri.
Saksi lain menyebut bahwa Iin sempat melihat tali putih yang akan digunakan Arik untuk gantung diri terpasang di langit-langit kamar. Iin sudah meminta anaknya yang paling besar untuk menurunkan tali itu. ”Tetapi karena terburu-buru ke sekolah, diduga anak itu mengurungkan niatnya dan mau menurunkan tali setelah pulang sekolah,” kata sumber yang enggan disebut namanya. (yad/fat)
Editor : A. Nugroho