Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ucap Syukur, Warga Wendit Suroan di Punden Mbah Kabul

Fathoni Prakarsa Nanda • Jumat, 25 Juli 2025 | 18:00 WIB
TRADISI: Warga melarung tiga pucuk tumpeng untuk memberi makan ikan di Sendang Widodaren yang terletak di dekat punden Mbah Kabul, kawasan New Wisata Wendit kemarin (24/7).
TRADISI: Warga melarung tiga pucuk tumpeng untuk memberi makan ikan di Sendang Widodaren yang terletak di dekat punden Mbah Kabul, kawasan New Wisata Wendit kemarin (24/7).

KABUPATEN - Tradisi memperingati bulan Suro rutin dilakukan warga sekitar sumber air Wendit, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis. Tradisi yang dilaksanakan di punden Mbah Kabul itu sudah dilaksanakan sejak 18 tahun lalu. Mereka mengucap syukur karena telah diberi kemudahan dalam mengakses air bersih di lingkungannya.

Juru Kunci Punden Mbah Kabul, M. Sholeh, mengatakan bahwa acara itu dilaksanakan pada Kamis Pahing di Punden Mbah Kabul. Masyarakat menyiapkan sekitar 10 tumpeng. Termasuk di dalamnya ada jajan pasar, jenang suro, dan jenang merah. Setelah dibacakan doa, makanan tersebut dinikmati oleh warga yang datang. “Pucuk tumpengnya tadi dilarung di sumber dengan tujuan untuk memberi makan ikan. Ada juga yang diletakkan di arca,” ucapnya setelah rangkaian acara suroan kemarin (24/7).

Pucuk tumpeng yang dilarung itu sebelumnya telah ditata menjadi satu porsi nasi lengkap beserta lauk-pauknya. Ada tiga porsi yang dilarung. Masing-masing porsi nasi ditenggelamkan oleh tokoh masyarakat dan perwakilan New Wisata Wendit by Nicole’s. Sumber itu biasa dikenal dengan Sendang Widodaren. Letaknya di dekat punden. Konon katanya, air di sendang tersebut dapat menyembuhkan penyakit atau bahkan bisa membuat awet muda. Karena itu, setelah melarung pucuk tumpeng, beberapa warga mencuci muka di sendang.

Sholeh menambahkan, Mbah Kabul merupakan sosok dari Kerajaan Majapahit yang membuka wilayah (babat alas) Wendit. Sehingga acara itu juga sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena Mbah Kabul sudah babat alas wilayah itu. ”Jadi kami termasuk anak cucu yang tinggal menikmati. Dulu, Mbah Kabul juga yang menjaga air,” kata dia.

Sementara itu, Manajer Marketing New Wisata Wendit Yuni Astuti menyampaikan, sebagai pengelola tempat wisata, pihaknya menghargai tradisi masyarakat. Karena itu dia tetap mengizinkan masyarakat untuk melaksanakan ritual tahunan tersebut. “Kami juga tetap menyisihkan anggaran untuk perawatan punden ini,” ucapnya.

Bagi warga yang ingin berdoa di punden pun bisa mendapatkan diskon. Asalkan sudah konfirmasi kepada juru kunci. Kemudian, juru kunci akan menyampaikan kepada pihak pengelola. Jika belum ada konfirmasi, warga yang ingin melaksanakan ritual tetap dikenakan tiket seperti wisatawan pada umumnya. “Tidak ada warga yang mempermasalahkan. Kami juga akan betul-betul mengecek tujuan orang yang datang. Apalagi, orang yang akan berdoa di punden dan murni berwisata itu dapat terlihat,” pungkasnya. (yun/fat)

 

Editor : A. Nugroho
#Mbah Kabul #tradisi #Kabupaten Malang #Warga Wendit #Suro