KEPANJEN - Memasuki Agustus, banyak penjual bendera di jalanan. Omzetnya meningkat, namun menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Hal itu dirasakan oleh Sahlan Jannah, seorang penjual atribut merah putih di Jalan Panglima Sudirman, Kepanjen. Dia menjual bendera merah putih, umbul-umbul, dan tiang penyangga bendera. Dalam sehari dia mengais rezeki Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu. "Saya mulai berjualan bendera sejak Sabtu lalu (26/7)," kata Sahlan.
Bendera paling mahal yang ia jual seharga Rp 250 ribu. Ukurannya sepanjang 8-10 meter. "Bendera paling murah seharga Rp 25 ribu, berukuran 90 x 40 sentimeter," terang Sahlan.
Sahlan mengaku, omzet dari hasil penjualan bendera merosot sejak tiga tahun berturut-turut. "Dulu bisa meraup Rp 3 juta per hari. Paling banyak yang beli berasal dari kantor dinas dan kantor pelayanan," kata Sahlan.
Sahlan bercerita, kantor dinas, pemerintahan, maupun pelayanan biasanya mengambil umbul-umbul dan bendera untuk latar belakang. Biasanya ia menjual belasan atau puluhan bendera ke setiap kantor. "Tapi sekarang berkurang," jelas Sahlan.
Sahlan membeberkan, walau omzet tidak lagi tinggi, tapi ia yakin omzetnya bertambah menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI pada 17 Agustus depan. "Saya yakin banyak yang mencari, khususnya kantor-kantor swasta," terangnya.
Di tempat lain, Rohana, 42, warga Pakisaji juga mulai berjualan bendera merah putih dan atribut lain sejak minggu lalu. Sejak tahun lalu ia sudah berjualan di Jalan Raya Pepen. Penjualan bendera itu sudah dilakukan sejak 35 tahun lalu. "Dulu orang tua saya yang jualan, naik sepeda keliling," kata Rohana.
Kemudian orang tuanya berpindah jualan di dekat Lapangan Rampal Kota Malang. Kini dirinya yang meneruskan.
Paling besar yang ia jual adalah bendera untuk latar belakang 20 meter seharga Rp 250 ribu. Paling murah adalah bendera kecil ukuran 45 sentimeter x 20 sentimeter dengan harga 10 ribu. "Ambil untung sedikit tetapi ambil yang paling dicari," ujar Rohana.
Rohana menerangkan, paling besar penjualannya sebelum masa pandemi Covid-19. Dalam masa tersebut dia mendapatkan keuntungan masih tinggi. "Tahun selanjutnya lebih sering merugi," terang Rohana.(yad/dan)
Editor : A. Nugroho