MALANG KOTA - Pendekatan berbeda bakal dilakukan BPBD Kota Malang dalam pelatihan mitigasi bencana. Dari biasanya secara formal di ruangan atau tempat-tempat tertentu, bakal dipindah ke titik-titik yang masuk kategori rawan bencana. Total ada sekitar 1.800 warga yang akan dilibatkan dalam pelatihan tersebut.
”Kami ingin masyarakat benar-benar siap. Jadi latihan tidak lagi di alun-alun atau tempat umum, melainkan di lokasi yang pernah terdampak banjir atau potensi bencana,” kata Kepala BPBD Kota Malang Prayitno.
Dia mencontohkan, pelatihan akan dilaksanakan di Kelurahan Lesanpuro. Sebab di sana pernah terdampak banjir akibat luapan Sungai Amprong pada 2024 lalu.
Pola baru itu dipilih agar warga bisa berlatih sesuai kondisi sesungguhnya. Mulai dari penanganan awal, hingga pemahaman tentang jalur evakuasi dengan skala perbandingan satu banding satu. ”Mereka akan mengetahui jalur evakuasi, titik pengungsian yang harus dituju, hingga lokasi pengumpulan warga. Jadi tidak hanya membayangkan,” terangnya.
”Dari pelatihan ini kami bisa mendapatkan informasi wilayah-wilayah baru yang masuk kategori rawan bencana. Kami membutuhkan banyak informasi dari masyarakat,” imbuh Prayitno. Lebih lanjut, pihaknya juga telah menyiapkan peta risiko bencana atau Kajian Risiko Bencana (KRB). Peta itu bisa diakses publik agar masyarakat mengetahui ancaman di wilayah masing-masing.
”Potensi bencana di setiap kecamatan berbeda. Dengan adanya KRB, warga bisa lebih waspada dan mengambil langkah antisipasi sejak dini,” tambahnya. Langkah tersebut diharapkan bisa meminimalkan dampak bencana yang selama ini kerap melanda Kota Malang. Mulai dari banjir, longsor, hingga pohon tumbang. ”Intinya mitigasi bukan sekadar kegiatan seremonial. Yang lebih penting kesiapan bersama agar saat bencana datang, masyarakat mengerti apa yang harus dilakukan,” pungkas dia. (adk/by)
Editor : A. Nugroho