Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mengintip Komunitas Gundama yang Mengubah Hobi Masa Kecil Jadi Ajang Kreativitas

Aditya Novrian • Rabu, 27 Agustus 2025 | 17:45 WIB
MEMUASKAN INNER CHILD: Anggota komunitas Gundama memamerkan hasil rakitan Gundam di salah satu kafe.
MEMUASKAN INNER CHILD: Anggota komunitas Gundama memamerkan hasil rakitan Gundam di salah satu kafe.

Tiap Tahun Rutin Ikut Kejuaraan Dunia

Di balik robot Gundam, tersimpan janji masa kecil yang baru bisa ditunaikan ketika dewasa. Bagi Komunitas Gundam Malang, merakit bukan sekadar hobi. Melainkan cara melunasi kerinduan sekaligus menyalurkan kreativitas tanpa batas. 

SORE itu, sebuah kafe di sudut Kota Malang mendadak dipenuhi ”pasukan robot.” Bukan robot sungguhan, melainkan deretan miniatur Gundam yang berjejer rapi di atas meja. Puluhan pria dengan wajah antusias sibuk menata, memotret, hingga berdiskusi serius tentang detailing, repaint, atau sekadar berbagi tips merakit.

Di sinilah Komunitas Gundam Malang atau yang akrab disebut Gundama melepas penat sekaligus memuaskan inner child mereka. Setiap bulan, sedikitnya 10-15 anggota Gundama berkumpul. Obrolan mereka bisa melompat dari sekadar membandingkan cat hingga perdebatan kecil tentang model kit langka.

Usia para anggota pun beragam, mulai dari yang paling muda 20 tahun hingga senior berusia 54 tahun. ”Rata-rata memang lahir di generasi 80-an. Kami dulu kenalnya lewat serial anime Gundam tahun 1979. Dulu hanya bisa menonton di televisi, tak bisa punya karena mahal dan jarang dijual di Indonesia,” tutur Irwan Khoril Amin, salah satu anggota aktif.

Komunitas ini lahir bukan tiba-tiba. Sebelum resmi berdiri, para pencinta model kit berkumpul di sebuah wadah bernama Skill Hobby on Community (SHOC). Namun, karena aktivitasnya mulai meredup, sebagian anggota memilih membuat rumah baru khusus penggemar Gundam. Pada 26 April 2014, Gundama pun resmi terbentuk.

”Kami ingin ada wadah untuk sharing. Tempat di mana kita sama-sama belajar dan berkreasi,” kenang Irwan. Kini, grup WhatsApp Gundama memiliki lebih dari 100 anggota. Meski begitu, yang benar-benar aktif sekitar 40 orang. Setengahnya sudah berusia di atas 30 tahun.

Berkumpul tak hanya sebatas nongkrong. Gundama rutin menggelar coaching clinic. Yakni kelas berbagi ilmu tentang merakit, mengecat, hingga memodifikasi Gundam. Di sana, para senior membimbing anggota baru tentang cara memoles detail, menggabungkan part, atau bahkan menciptakan model kit baru hasil kawin silang.

Bagi sebagian anggota, merakit Gundam jadi lebih dari sekadar hobi. Proses itu menghadirkan rasa fokus sekaligus terapi stres. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat hasil rakitan sesuai ekspektasi. Bahkan, kalau pun tidak puas, selalu ada ruang untuk bongkar pasang ulang. ”Gundam itu bukan sekadar dirakit sesuai petunjuk. Justru asyiknya ketika kita bisa bebas berkreasi,” jelas Irwan.

Bagi sebagian besar anggota, memiliki Gundam bukan sekadar melampiaskan masa kecil. Ada ikatan emosional antara perakit dengan Gundamnya. Rasanya seperti melunasi janji masa kecil yang dulu hanya bisa dipendam. Ketika dewasa dan sudah memiliki penghasilan, hobi itu pun bisa diwujudkan. Tidak heran jika banyak anggota menganggap Gundam sebagai media untuk memuaskan inner child sekaligus sarana menyalurkan imajinasi.

Koleksi anggota Gundama bervariasi. Ada yang hanya punya satu, ada pula yang raknya penuh hingga ratusan unit. Harga Gundam sendiri tidak main-main. Model termurah bisa didapat dengan Rp 500 ribu, sementara yang paling mahal tembus Rp 60 juta.

”Kalau sudah bicara rare item, harganya bisa melambung. Ada teman di komunitas yang punya sepasang Gundam seharga Rp 120 juta,” kata Irwan sambil terkekeh. Ia sendiri memiliki model kit keluaran 1981 yang sudah tidak diproduksi lagi. Barang semacam itu dianggap harta karun bagi para kolektor.

Gundam terbagi dalam berbagai grade. Mulai dari Super Deformed (SD), High Grade (HG), Real Grade (RG), Master Grade (MG), hingga Perfect Grade (PG). Semakin tinggi grade, semakin rumit pula perakitan dan detailing-nya. Yang paling populer di kalangan pemula adalah Master Grade dengan skala 1/100. Tingginya bisa mencapai 15–20 sentimeter dengan harga sekitar Rp 400–500 ribu. Sementara bagi kolektor lama, tantangannya justru berburu model langka yang semakin sulit ditemukan di pasaran.

Kreativitas anggota Gundama tak berhenti di meja rakit. Banyak dari mereka membuat diorama. Memadukan Gundam dengan latar cerita, lengkap dengan properti mini yang mendukung kisahnya. Hasil karya itu sering difoto dan dibagikan di media sosial, sekaligus jadi ajang pamer kebanggaan.

Tak hanya itu, Gundama juga aktif mengikuti ajang bergengsi Gundam Build World Championship. Hampir setiap tahun ada satu atau dua anggota yang lolos. ”Tahun ini kemungkinan ada lagi yang berangkat, sekitar bulan September,” beber Irwan.

Selain ajang internasional, mereka juga punya kompetisi internal bernama Gundama Challenge. Tahun ini, lomba yang sudah berjalan enam kali itu kembali digelar dengan tiga kategori. Antara lain Clean Build, Paint Build, dan Custom Build.

Semua kategori menekankan kreativitas sekaligus ketelitian anggota. Perlombaan ini menjadi ruang bagi anggota untuk unjuk gigi, sekaligus tantangan agar mereka tak berhenti berinovasi.

Di mata Irwan, Gundam jauh berbeda dengan action figure biasa. Gundam bukan barang pajangan pasif, melainkan media ekspresi dan kreativitas. Dari merakit, mengecat, hingga memodifikasi, semua proses itu membuka ruang seni bagi setiap perakit.

Itulah sebabnya, komunitas ini tak pernah kehabisan energi. Dari sebuah anime Jepang lawas, lahirlah hobi lintas generasi yang menyatukan mahasiswa, pekerja kantoran, hingga bapak-bapak paro baya. Di balik deretan robot mini itu, tersimpan kisah masa kecil, kreativitas tanpa batas, dan tentu saja, persahabatan.(*/adn)

Editor : A. Nugroho
#robot #gundam #Kota Malang #komunitas