MALANG KOTA – Konflik antara eks dosen UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang Imam Muslimin dengan warga Perumahan Joyogrand Kavling Depag, Kelurahan Merjosari, berbuntut panjang. Imam resmi diusir dari lingkungannya sejak Senin (22/9).
Pengusiran itu mengacu pada surat kesepakatan warga RT 09/RW 09 yang ditandatangani 25 orang. Surat dibuat sejak 7 September, namun baru disampaikan kepada Imam dua pekan kemudian saat ia meminta tanda tangan Ketua RT untuk kepindahan.
”Ketua RT menolak menandatangani. Katanya, suami saya sudah diusir dari perumahan,” ungkap Rosida Vignesvari, istri Imam, kepada wartawan Jawa Pos Radar Malang.
Dalam surat itu, tercantum lima poin alasan pengusiran. Pertama, Imam adalah warga baru yang menempati rumah sejak Maret 2025.
Kedua, warga menilai Imam kerap berperilaku tidak pantas selama Juli–Agustus. Poin ketiga menyebut Imam pernah diajak mediasi. Namun Rosida membantah.
”Saya merasa tidak pernah ada pertemuan. Keputusan itu diambil diam-diam tanpa memberi kami kesempatan menjelaskan,” ujarnya.
Selain itu, Imam dituduh meresahkan warga. Antara lain karena sering spam kegiatan pribadi di grup WhatsApp RT, dituding minum minuman keras, hingga memperlihatkan aurat. Ada juga tuduhan menutup akses jalan, menyebar fitnah kepada pengurus RT, dan berseteru dengan tetangga.
Semua tuduhan itu dibantah Rosida. Menurutnya, video yang menampilkan Imam memegang botol anggur merah hanyalah gurauan dengan pemuda sekitar.
”Suami saya tidak pernah sungguh-sungguh minum miras,” tegasnya.
Akibat pengusiran itu, Imam dan Rosida kini tinggal sementara di hotel. Rumah mereka sedang dijual, namun belum ada yang menawar. Sesekali keduanya pulang untuk mengambil barang.
”Kalau kembali ke rumah, saya harus diam-diam. Warga langsung bersikap sinis,” tambah Rosida.
Ia mengaku sering merasa diawasi ketika melintas di depan rumah tetangganya, Sahara, yang juga terlibat perseteruan.
Sementara itu, Ketua RT 09 Prayoga Subiarto tidak bisa dimintai keterangan. Istrinya menyebut perkara sudah ditangani pihak berwajib.
”Kami tidak ingin berkomentar,” singkatnya. (aff/adn)
Editor : Aditya Novrian