MALANG KOTA - Jembatan gantung yang menghubungkan Kelurahan Kedungkandang dengan Kelurahan Polehan segera diaktifkan. Pembangunan jembatan itu punya banyak manfaat. Salah satunya untuk memfasilitasi pelajar SMPN 28 Kota Malang dari Kelurahan Kedungkandang.
Mereka tak perlu lagi memutar sejauh tiga kilometer untuk berangkat dan pulang sekolah. Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama Camat Kedungkandang Fahmi Hidayat dan dinas terkait memantau progres pembangunan jembatan itu, kemarin. Pemilik kursi N1 tersebut mencoba melintas dari Kelurahan Kedungkandang hingga Kelurahan Polehan.
Wahyu memastikan bahwa pengerjaan jembatan hampir rampung. Rencananya bakal dilakukan peresmian pada 26 Oktober mendatang. ”Jembatan ini dibangun komunitas vertical rescue dan sejumlah donatur. Saya lihat sangat bermanfaat, khususnya untuk anak sekolah,” ujar Wahyu.
Sebelum ada jembatan gantung tersebut, pelajar dari Kelurahan Kedungkandang harus melintasi tiga ruas jalan. Yaitu Jalan Ki Ageng Gribig, Jalan Muharto, dan Jalan Puntodewo (Polehan). Selain jarak cukup jauh, Jalan Muharto dan Polehan juga dikenal dengan kepadatan yang tinggi.
Dari peninjauan kemarin, Wahyu menemukan ada satu hal yang perlu disempurnakan. Yaitu akses masuk dari kedua kelurahan. Dia menganggap, akses masih cukup curam dan cukup membahayakan pelajar.
Untuk perbaikan akses tersebut, Pemkot Malang akan turun tangan dengan mengalokasikan anggaran dari APBD. Wahyu telah menginstruksikan perangkat daerah terkait untuk menyusun rencana perbaikan akses. ”Kebetulan yang punya tanah juga sudah menghibahkan. Sehingga bantuan APBD bisa masuk,” terang pejabat yang biasa disapa Pak Mbois itu.
Ada satu lagi jembatan gantung yang dibangun di Kota Malang. Jembatan itu sama-sama diprakarsai oleh Komunitas Vertical Rescue. ”Satu lagi di Bandulan, itu menghubungkan dengan Kecamatan Wagir. Di sana pembangunannya baru 80 persen, saya mengecek yang akan diaktifkan terlebih dahulu,” tutur Wahyu.
Ketua Vertical Rescue Regional Malang Widya Sarjana menjelaskan, lebar jembatan gantung di Kedungkandang kurang lebih 1,2 meter dan panjangnya 50 meter. Durasi pengerjaan jembatan gantung itu selama dua bulan. Atau dimulai bulan Agustus lalu.
”Kekuatan jembatan gantung ini maksimal lima ton. Tetapi agar tidak terlalu bergoyang, harus dibatasi orang yang di atas,” terang Widya. Idealnya, maksimal hanya empat orang yang ada di jembatan. Penggunaannya bisa dilakukan secara bergantian.
”Nanti akan dipasang papan pemberitahuan jembatan gantung harus digunakan bergantian,” tutur Widya. Selanjutnya, tim Vertical Rescue akan mengalihkan fokus pembangunan di jembatan gantung Jalan Bandulan. Sehingga seluruh fasilitas tersebut bisa digunakan pada akhir Oktober nanti. (adk/by)
Editor : A. Nugroho