MALANG KOTA - Indonesia pernah menjadi negara yang disegani pada tahun ‘96-97 karena lifting minyaknya sampai 1,6 juta barrel per hari. Padahal konsumsi saat itu hanya 500 barel per hari. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai eksportir minyak.
Hal itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kemarin (29/10). Setelah reformasi, dia mengatakan, lifting minyak di Indonesia semakin menurun. Dia mengaku mendapat amanah dari Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan lifting minyak.
Targetnya 605 ribu barrel per hari pada tahun ini. ”Per Oktober ini, kita sudah bisa meningkatkan lifting minyak sampai 605 barrel per hari,” ujar Bahlil yang didampingi Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi dan Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Muhadjir Effendy.
Oleh karena itu, dia melanjutkan, porsi impor minyak sudah bisa dikurangi. Per Juni lalu, impor minyak di Indonesia mencapai 61,73 persen dari kebutuhan nasional. Angka itu yang akan dikurangi dengan mencampur bensin dengan etanol.
Dia mengatakan, etanol merupakan bahan baku yang didapat dari jagung, tebu, dan singkong. Bahlil menyebut, itu sumber energi bersih yang aman dijadikan campuran bahan bakar. Bahkan di negara lain juga memakai bahan yang sama untuk campuran.
“Kalau ada yang protes campuran etanol itu, karena mereka tidak ingin impor bahan bakar dikurangi,” papar Bahlil. Padahal, dia melanjutkan, Indonesia sudah hampir mencapai kemandirian sumber energi.(aff/dan)
Editor : A. Nugroho