Tren face painting kini menjelma aktivitas ringan di ruang publik. Coret wajah hadir sebagai hiburan cepat, murah, dan aman. Tak hanya itu, tren tersebut juga menarik minat pengunjung lintas usia
DULU, wajah yang dicoret-coret dengan cat warna-warni identik dengan panggung konser, festival seni, atau acara ulang tahun anak-anak. Kini kebiasaan itu pelan-pelan bergeser. Di Kajoetangan Heritage, face painting justru menemukan rumah barunya.
Di antara bangunan lawas dan riuh langkah wisatawan, beberapa anak kecil hingga muda-mudi tampak asyik bercermin. Mereka memeriksa hasil gambar bunga, garis abstrak, hingga motif sederhana di wajah mereka.
Lapak face painting itu tidak besar. Sederhana saja, namun cukup mencolok. Di sanalah Devani Ridha atau yang akrab disapa Vani menawarkan jasanya. Ia tak menyangka, coretan kecil di wajah bisa menjadi daya tarik baru bagi wisatawan, terutama mereka yang datang dari luar kota.
”Anak-anak usia sekolah dasar hingga remaja dan mahasiswa menjadi pelanggan paling setia. Bagi mereka, face painting bukan sekadar riasan, melainkan pengalaman singkat yang bisa dibawa pulang dalam bentuk foto,” ujar Vani.
Harga yang ditawarkan Vani relatif ramah di kantong. Ada tiga kategori gambar dalam katalog yang ia sediakan. Mulai dari Rp 5 ribu untuk satu sisi wajah, Rp 10 ribu untuk kedua sisi, hingga Rp 15 ribu untuk gambar yang lebih rumit. Dengan pilihan itu, wisatawan bebas menyesuaikan selera dan bujet.
Tak perlu waktu lama pula. Gambar paling sederhana bisa selesai dalam hitungan tiga menit. Yang paling rumit pun jarang memakan waktu lebih dari sepuluh menit.
Awalnya, Vani sempat ragu membuka lapak di kawasan wisata. Face painting, menurutnya, lebih sering dicari saat event besar. Namun keraguan itu perlahan sirna.
Hari demi hari, pelanggan justru terus berdatangan. Dalam sehari, ia bisa melayani sekitar 30 hingga 40 orang. Mayoritas memang perempuan, tetapi sesekali ada pula pengunjung laki-laki yang ikut mencoba.
”Biasanya, mereka datang berpasangan dan akhirnya ikut tergoda untuk dicoret wajahnya,” terang Vani.
Soal motif, bunga menjadi primadona. Selain sederhana, motif ini mudah dipadukan dengan berbagai gaya busana. Namun, pilihan gambar lain juga tersedia bagi mereka yang ingin tampil berbeda.
Untuk urusan peralatan, Vani menggunakan kuas lukis biasa dan cat khusus face painting berbahan dasar oil. Cat ini dipilih karena warnanya lebih pekat, tahan air, dan cukup awet meski dipakai berjalan-jalan.
Meski begitu, ada satu catatan kecil. Cat oil tidak sepenuhnya tahan gesekan. Jadi, wajah yang sudah dihias sebaiknya tidak sering disentuh. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho