Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Face Painting Memiliki Desain Menarik dan Tidak Berlebihan

A. Nugroho • Minggu, 21 Desember 2025 | 15:39 WIB
ROMANTIS: Pengunjung Kajoetangan Heritage melukis wajahnya dengan motif jaring laba-laba.
ROMANTIS: Pengunjung Kajoetangan Heritage melukis wajahnya dengan motif jaring laba-laba.

POPULARITAS face painting di media sosial pelan-pelan menjalar ke ruang nyata. Video singkat di TikTok yang menampilkan wajah-wajah penuh warna rupanya menimbulkan efek domino. Penonton yang awalnya hanya melihat, akhirnya tergoda untuk ikut mencoba.

Hangcya Fathia Nurul adalah salah satunya. Perkenalannya dengan face painting berawal dari layar ponsel. Rasa penasaran mendorongnya mendatangi salah satu penyedia jasa di kawasan Kajoetangan. Meski baru pertama kali menjajal, kesan yang ia dapat justru langsung positif. Desain yang ditawarkan dianggap menarik dan tidak berlebihan.

Cya, sapaan akrabnya, memilih gambar dari katalog berbentuk bunga yang menyerupai sayap kupu-kupu. Warna merah muda dengan taburan kilau menjadi pilihannya. Gambar itu ditempatkan di dahi dan sisi mata kanan, memberi aksen tanpa menutupi seluruh wajah.

”Prosesnya pun singkat. Dalam waktu dua hingga tiga menit, coretan yang diinginkan sudah selesai,” terang dia.

Yang membuatnya nyaman, selama mengenakan face painting ia tidak merasakan sensasi panas atau reaksi alergi di kulit. Menurutnya, cat yang digunakan terasa ringan. Tidak seperti bayangannya tentang cat wajah yang kaku atau menyengat. Pengalaman pertama itu justru meninggalkan kesan menyenangkan.

Sebagai mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang memiliki hobi melukis, tren face painting dinilai sejalan dengan minatnya. Coretan di wajah bisa menjadi referensi visual sekaligus sumber inspirasi untuk karya-karyanya kelak.

”Dari sekadar tren, saya melihat face painting sebagai bentuk ekspresi seni yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” kata Cya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Muhammad Rohim. Awalnya, ia mengaku tidak terlalu tertarik dengan tren coret wajah. Kedatangannya lebih karena menemani sang kekasih. Namun rasa ragu itu berubah setelah mencoba sendiri. Ia memilih desain jaring laba-laba berwarna merah dari katalog.

”Pilihan itu sengaja diambil agar tetap terlihat sederhana dan tidak menghilangkan kesan maskulin,” ungkapnya.

Bagi Rohim, face painting yang semula hanya pelengkap untuk tampil serasi bersama pasangan, justru memberi pengalaman baru. Dari yang awalnya sekadar ikut-ikutan, ia menemukan bahwa coretan wajah bisa dinikmati siapa saja. Tren yang lahir di media sosial itu kini menemukan bentuknya di ruang publik, menghadirkan pengalaman singkat namun berkesan bagi mereka yang mencobanya. (zan/adn)

Editor : A. Nugroho
#face painting #menarik #Desain #TikTok #popularitas