Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dipimpin Khofifah, Misi Dagang Jatim–Jateng Awal 2026 Tembus Rp 3,15 Triliun

Aditya Novrian • Senin, 2 Februari 2026 | 09:50 WIB

 

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen berdialog dengan pelaku usaha dalam pameran misi dagang di Semarang, Kamis (29/1). (Biro Adpim Setdaprov Jatim)
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen berdialog dengan pelaku usaha dalam pameran misi dagang di Semarang, Kamis (29/1). (Biro Adpim Setdaprov Jatim)

SEMARANG – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin misi dagang dan investasi perdana Jawa Timur–Jawa Tengah tahun 2026 yang digelar di Ballroom PO Hotel Semarang, Kamis (29/1). Hasilnya, kegiatan tersebut sukses membukukan komitmen transaksi senilai Rp 3,152 triliun lebih.

Misi dagang ini dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, jajaran kepala perangkat daerah Pemprov Jatim dan Jateng, serta perwakilan organisasi dunia usaha, seperti HIPMI, Kadin, IWAPI, REI, dan Gekrafs dari kedua provinsi.

Khofifah mengatakan, misi dagang menjadi langkah strategis untuk memperkuat konektivitas perdagangan antarwilayah, memperluas pasar domestik, sekaligus mengintegrasikan rantai pasok regional. Dari hasil business matching yang dilakukan, kebutuhan antarprovinsi dinilai saling melengkapi.

Photo
Photo

“Jawa Timur membutuhkan produk dari Jawa Tengah, demikian juga sebaliknya. Sinergi ini terlihat dari nilai transaksi yang hingga sore hari sudah menembus Rp 3,152 triliun,” ujar Khofifah.

Ia merinci, total transaksi tersebut terdiri atas Jatim Jual sebesar Rp 2,759 triliun, Jatim Beli Rp 296,86 miliar, dan investasi Rp 96 miliar. Penjualan Jawa Timur ke Jawa Tengah meliputi berbagai komoditas unggulan, seperti produk peternakan, pangan, perikanan, perkebunan, industri pengolahan, hingga hasil kehutanan.

Produk yang dipasarkan antara lain rokok, beras, kopi, tetes tebu, pakan ikan dan udang, benih tebu, surimi, daging ayam dan sapi, susu, gula kristal putih, DOC, fillet ikan, aneka seafood, sapi ternak, benih tanaman pangan dan hortikultura, jagung, produk tekstil, veneer, hingga pupuk organik cair.

Sementara dalam skema Jatim Beli, Jawa Timur menyerap sejumlah komoditas dari Jawa Tengah, seperti kayu bulat, telur ikan, karung, cengkeh, tembakau, katul, minuman herbal seduh, sambal pecel, botol plastik, biji carica, tepung tapioka, tas anyam, serta gula merah tebu. Pola transaksi dua arah ini dinilai mampu mengoptimalkan muatan berangkat dan muatan balik antarwilayah.

“Misi dagang ini mencerminkan kekuatan dan kebutuhan masing-masing daerah. Pola dua arah seperti ini memperkuat integrasi pasar domestik,” jelas Khofifah.

Komitmen transaksi terbesar tercatat pada kerja sama Asosiasi Pelaku Usaha Peternakan Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan nilai Rp 1,13 triliun per tahun. Kerja sama tersebut mencakup perdagangan daging unggas, daging sapi, susu, telur, olahan daging, DOC ayam, hingga ternak sapi.

Transaksi besar lainnya antara PT Sinergi Gula Nusantara (Jatim) dengan PT Citra Gemini Mulya (Jateng) untuk komoditas gula kristal putih senilai Rp 300 miliar per tahun, serta kerja sama sektor hasil tembakau antara GAPERO Jatim dan PT TSPM Jateng senilai Rp 192 miliar per tahun.

Di sektor pangan dan perikanan, penjualan surimi dan produk olahan oleh PT Indo Lautan Makmur mencapai Rp 142,8 miliar per tahun. Disusul penjualan beras oleh CV Sumber Pangan Kediri senilai Rp 126,5 miliar per tahun, serta pakan ikan dan udang oleh PT Matahari Sakti senilai Rp 105,6 miliar per tahun.

Untuk muatan balik, Jawa Timur juga melakukan pembelian kayu bulat dari Jawa Tengah melalui Perum Perhutani dengan nilai transaksi Rp 60,22 miliar per tahun.

Khofifah menegaskan, penguatan perdagangan antarwilayah merupakan bagian dari strategi menjaga ketahanan ekonomi daerah. Pada triwulan III-2025, perekonomian Jawa Timur tumbuh 5,22 persen (year on year), lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional 5,04 persen.

Dengan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 14,54 persen, Jawa Timur juga mencatat surplus perdagangan antarwilayah terbesar secara nasional, mencapai Rp 209 triliun. Adapun total perdagangan Jawa Timur–Jawa Tengah tercatat Rp 47,58 triliun, dengan surplus Jawa Timur sebesar Rp 9,05 triliun.

Photo
Photo

Sejak 2019 hingga Januari 2026, Pemprov Jawa Timur telah menggelar 49 misi dagang domestik di 29 provinsi dengan total nilai komitmen transaksi Rp 30,52 triliun. Selain itu, enam kali misi dagang luar negeri sejak 2022 hingga 2025 membukukan potensi transaksi Rp 5,896 triliun.

“Keberhasilan ini menunjukkan daya saing produk Jawa Timur sangat kuat. Kolaborasi dengan Jawa Tengah akan terus kami perkuat agar tumbuh dan sejahtera bersama,” pungkas Khofifah.

Pemberitaan ini bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Provinsi Jawa Timur

Editor : Aditya Novrian
#Jatim #misi dagang #Khofifah #PDRB