Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Angka Stunting di Malang Meningkat, Pemerintah Perkuat Upaya Cegah Gizi Buruk

Aditya Novrian • Sabtu, 28 Februari 2026 | 19:05 WIB

Ilustrasi anak berisiko stunting akibat kurang gizi. Dinas Kesehatan Kota Malang mencatat ribuan anak masih terancam gangguan pertumbuhan.
Ilustrasi anak berisiko stunting akibat kurang gizi. Dinas Kesehatan Kota Malang mencatat ribuan anak masih terancam gangguan pertumbuhan.

MALANG KOTA – Upaya pemerintah menurunkan angka stunting menemui jalan terjal. Meski berbagai program digelontorkan, tahun lalu tercatat 2.864 bocah berisiko stunting, sementara ribuan bocah lainnya diintai wasting. Jumlahnya meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Untuk diketahui, stunting adalah pertumbuhan terhambat akibat kekurangan gizi. Sedangkan wasting merupakan berat badan terlalu rendah akibat kurang gizi, sehingga si anak terlihat sangat kurus. Hari Gizi Nasional (HGN) yang diperingati hari ini (28/2) menjadi momentum pemerintah untuk memerangi gangguan kesehatan akibat kurang gizi. Sebab jika tidak segera ditanggulangi, ribuan bocah itu berisiko terkena gizi buruk.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang drg Muhammad Zamroni mengatakan, pihaknya rutin mengidentifikasi gizi anak melalui pemeriksaan di masing-masing puskesmas. Mulai pemeriksaan berat badan, tinggi badan, dan kondisi-kondisi lain pada anak.

Baca Juga: Angka Stunting di Kota Malang Naik Jadi 8,48 Persen

Zamroni menyebut, pada 2024 ada 37.841 anak yang terdata di dinkes. Namun yang mengikuti pemeriksaan hanya 35.674 anak.

"Dari pemeriksaan yang dilakukan, diketahui ada 2.842 anak yang berisiko stunting dan 1.648 anak yang berisiko wasting," jelas dia.

Selanjutnya pada 2025, ada 35.724 anak yang tercatat dinkes. Sementara yang mengikuti pemeriksaan 34.621 anak.

 "Kemudian setelah kami kaji dari pemeriksaan, hasilnya ada 2.864 anak yang berisiko stunting dan 1.470 anak yang berisiko wasting," sambung pejabat eselon III B Pemkot Malang tersebut.

Kemudian tahun ini masih menunggu dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Demikian pula dengan jumlah anak yang terpantau memiliki risiko stunting maupun wasting.

Zamroni menyebut ada peningkatan jumlah anak berisi stunting. Menurut dia penyebabnya beragam. Biasanya stunting terjadi sejak bayi dalam kandungan. Hal itu dipengaruhi oleh kondisi ibu hamil yang tidak mendapat asupan nutrisi yang cukup, menderita anemia, atau kekurangan energi kronis (KEK). Setelah lahir, dia melanjutkan, terkadang anak juga masih belum memiliki pola makan yang bergizi.

"Bisa kekurangan protein hewani, lemak, dan malnutrien," tutur Zamroni.

Di samping asupan nutrisi, ada juga faktor lain berupa infeksi berulang. Itu bisa dilihat dari anak yang sering mengalami diare atau ISPA.

"Jika sering infeksi, artinya sistem imun anak kan lemah. Energi yang seharusnya untuk tumbuh malah habis melawan penyakit," ucapnya.

Dia mengatakan, ada juga faktor lingkungan. Misalnya sanitasi buruk dan akses air bersih yang kurang, sehingga membuat anak mudah terserang parasit atau bakteri. Dampaknya, penyerapan nutrisi jadi ikut berkurang. Sementara untuk wasting sendiri penyebabnya cenderung karena kurang asupan makanan secara drastis. Bisa karena kemiskinan ekstrem, kelaparan, atau penelantaran.

Untuk mencegah kondisi tersebut, dia melanjutkan, keluarga juga perlu peka. Sebab, kondisi wasting dan stunting tidak tampak hanya dalam semalam.

"Tentunya ada gejala-gejala seperti perubahan pada nafsu makan atau grafik berat badan, pertumbuhan gigi terhambat, wajah tampak lebih muda atau lebih tua, kulit kendur, lemas, sering sakit, hingga gangguan fokus," beber Zamroni.

Dinkes juga melakukan strategi penuntasan masalah gizi. Meliputi pemberian tablet tambah darah, pemeriksaan antenatal care, kampanye pemberian ASI eksklusif dan MPASI, hingga imunisasi dasar lengkap. Tidak lupa, dinkes melengkapi alat-alat yang mendukung deteksi dini melalui posyandu. Salah satu alat yang dilengkapi adalah antropometri.(mel/dan)

Disunting Kembali: Diva Ayu Herdianasari

Editor : Aditya Novrian
#upaya penurunan stunting #Kota Malang #kekurangan gizi