MALANG KOTA, RADAR MALANG - Bus Trans Jatim sudah beroperasi di Kota Malang sejak November 2025 lalu. Kondisi beberapa halte yang dijadikan shelter bus itu cukup memprihatinkan. Ada yang dipenuhi coretan. Ada juga yang mulai rusak dan terkesan kumuh.
Merespons kondisi itu, kemarin (25/4) sekitar 10 warga dari Komunitas Transport for Malang, KP Alternatif, dan Aliansi Malang Bergerak melakukan aksi nyata. Mereka membersihkan beberapa halte. Salah satunya di Jalan Veteran.
Baca Juga: Penambahan Halte di Kawasan Soehat Jadi Opsi, Wujudkan Transportasi Lebih Tertib
Sejak pukul 10.00 mereka berjibaku membersihkan stiker-stiker yang menempel dan cat halte yang banyak mengelupas. Sekitar pukul 14.00, mereka melanjutkannya dengan proses pengecatan. Wahyu Styo Pratama, perwakilan dari Komunitas Transport for Malang menuturkan, aksi kemarin dilakukan sebagai bentuk sentilan untuk Pemkot Malang.
Sebab halte-halte di Kota Malang sudah lama dibiarkan kumuh. ”Seperti halte yang sedang dicat saat ini letaknya di jalan utama dan tentu dilihat seluruh pengguna jalan yang melintas, tapi kondisinya sangat kumuh,” kata dia.
Dalam sekali aksi pengecatan, Wahyu mengaku hanya menghabiskan dana sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu. Itu berasal dari iuran kas komunitas yang diikutinya bersama teman-teman. Dana sekecil itu tentu bisa di-cover lewat APBD Kota Malang. Sebab, jumlah halte yang perlu dicat ulang tidak sampai ribuan.
Wahyu berharap aksi kemarin merupakan pengecatan halte pertama dan terakhir yang dilakukan warga. Setelah kegiatan itu selesai, harusnya Pemkot Malang sadar dan mulai melakukan perbaikan untuk halte-haltenya. ”Apalagi Kota Malang ini selalu banyak dikunjungi wisatawan, jadi harusnya lingkungan dan fasilitas umumnya diperbaiki,” lanjut Wahyu.
Berdasar pantauan Jawa Pos Radar Malang, halte yang kumuh tidak hanya terlihat di Jalan Veteran dan Jalan Bandung saja. Hampir semua halte memiliki coretan dan tempelan sticker. Dan, terkesan kumuh.
Halte yang terlihat bersih hanya halte-halte baru yang dibangun untuk jalur Bus Trans Jatim saja. Salah satu pengguna halte bernama Syifaun Najah berkata, halte yang terkesan kumuh memang tidak nyaman dipakai.
Dia menyayangkan hal tersebut. Sebab, dia termasuk pelanggan setia Bus Trans Jatim untuk berangkat ke tempat kerja dan tempat tinggalnya. ”Apalagi beberapa halte berdampingan dengan tempat sampah. Biasanya sampah sudah penuh juga tidak segera diangkut jadi menambah kesan kumuh,” pungkasnya.
Di tempat lain, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang Widjaja Saleh Putra menuturkan, aset halte yang berada di Kota Malang masih milik Pemprov Jatim. Karena itu, Pemkot Malang tidak memiliki hak untuk memperbaiki atau mengecat ulang. ”Kami belum menerima serah terima dari Pemprov, jadi semua hak pengelolaan masih di sana,” kata dia. (aff/by)
Editor : A. Nugroho