GARDU besar berdiri tepat di depan rumah tua itu. Pagar besi yang menutupi area pekarangannya sudah tampak berkarat. Pagar tersebut berada dalam kondisi terkunci.
Di samping rumah itu ada gang kecil yang tembus ke lingkungan Sawunggaling, Kelurahan Penarukan, Kecamatan Kepanjen. Terlihat juga jendela kecil bertralis besi yang sedikit menampakkan keadaan dalam rumah. Kondisinya kotor dan tak terawat.
Baca Juga: Diskon Tambah Daya PLN 50 Persen Kembali Dibuka, Berlaku hingga 28 April
Tampak pula kusen kayu penyanggah pintu yang sudah lapuk. Di balik penampilan kelam rumah tua tersebut, ada beberapa kisah yang meliputi.
Salah satunya yakni kisah bahwa rumah tersebut dulu merupakan bekas klinik persalinan yang melayani aborsi. Ada beberapa artikel yang beredar di internet, salah satunya yang diunggah akun Facebook bernama Abror Subhi.
Akun itu menyebut bahwa kegiatan penghilangan nyawa bayi dalam kandungan itu sudah ada sejak 1934. Tepatnya pada masa kolonial. Kamar tempat aborsi disebut-sebut berada di bagian belakang rumah tersebut.
Kisah tersebut bahkan diekspos di salah satu acara TV lokal pada 2019. Acara itu menampilkan keadaan dalam rumah beserta pemilik rumah yang disebut bernama Damar. Sayangnya, dalam beberapa kesempatan wartawan Jawa Pos Radar Malang mendatangi lokasi dan bertanya ke sejumlah warga, sosok pemilik rumah itu tidak berada di tempat.
Cerita rumah tua tak terawat bekas klinik aborsi itu juga diceritakan turun temurun oleh beberapa warga sekitar. Salah satunya Syahrir, 21, warga lingkungan Sawunggaling yang sehari-hari berjualan kebab di depan rumah tersebut.
”Persisnya saya tidak tahu kapan terakhir jadi klinik aborsi, tapi cerita yang saya dengar sudah dari zaman Belanda,” kata dia. Kabar yang beredar, sampai media 1980-an awal, klinik tersebut masih beroperasi. Tidak diketahui keberad an pemilik klinik tersebut.
Terkait siapa pemilik rumah tersebut, Syahrir mengatakan bahwa dahulu sempat dijadikan rumah dinas Telkom. ”Setelah itu jadi kafe, jadi distro pakaian tapi tidak ada yang bertahan lama,” ujar dia. Dia mengaku sempat mendapati beberapa tanda-tanda keberadaan makhluk halus di sana.
Jawa Pos Radar Malang juga melakukan peninjauan berkas sejarah di kawasan tersebut. Diketahui, di belakang atau sebelah selatan kawasan Sultan Agung merupakan area bekas stasiun trem Kepanjen yang dioperasikan Malang Stoom tram Maatschappij (MS).
Keterangan itu tertera dlam peta tahun 1929 sam pai 1930. Pada era itu, kawasan yang berada di sisi selatan Jalan Sultan Agung masih berupa tegalan atau tanah perkebunan yang ditumbuhi beberapa pohon. Kawasan perumahan baru ada di sebelah utara jalan. Berdekatan dengan pasar Kepanjen dan Stasiun Kepanjen milik Staatsspoor wegen (SS).
Keterangan lain disampaikan Plt Kasi Trantib Keca matan Kepanjen Solikin. Lewat pemaparannya, di ketahui pada tahun 1989 sampai 1990 bangunan tersebut bukan merupakan rumah dinas. ”Pengalaman saya, itu dulu Kantor PLN Kepanjen, sekitar tahun 1989,” kata dia.
Sampai sekarang, dia belum pernah mendapatkan keterangan kalau dahulu ada aktivitas aborsi di sana. (*/by)
Editor : A. Nugroho