Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Musim Kemarau Mengancam Nasib Sentra Tebu

Indah Mei Yunita • Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB
PERTANIAN: Lahan tebu di Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis mulai dipanen. Produktivitas menurun jika Bumi Kanjuruhan dilanda kekeringan.
PERTANIAN: Lahan tebu di Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis mulai dipanen. Produktivitas menurun jika Bumi Kanjuruhan dilanda kekeringan.

KEPANJEN, RADAR MALANG – Musim kemarau berpotensi mengganggu produktivitas tebu. Padahal, Kabupaten Malang sudah dinobatkan menjadi salah satu sentra tebu di Jawa Timur. Jika kemarau berkepanjangan dan berujung kekeringan, produktivitas akan menurun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang, 27 persen dari seluruh luas lahan pertanian di Bumi Kanjuruhan ditanami tebu. Tahun lalu menghasilkan 4,29 juta ton tebu dengan lahan seluas 48.542 hektare. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Seperti pada 2023 berkisar 4,02 juta ton dan 2024 menembus 4,21 ton.

Baca Juga: Bulan Ini Diprediksi Memasuki Puncak Musim Kemarau, 26 Kecamatan di Kabupaten Malang Terancam Karhutla

“Tahun ini, kami masih melakukan evaluasi untuk menentukan target. Tapi kami harap minimal jumlahnya tetap (4,29 juta ton, Red), apalagi dengan adanya ancaman fenomena El Nino,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan, Horti kultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisica Sani Putera ditemui beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi, bagi tebu yang masih muda atau berusia 0-4 bulan, kemarau bisa menghambat pertumbuhan. Batang menjadi lebih pendek, jumlah anakan berkurang, dan hasil panen bisa turun jika kekurangan air parah. Sedangkan bagi tebu yang sudah memasuki fase pembesaran batang atau 4-8 bulan, tebu masih bisa tumbuh. Namun laju pertumbuhannya melambat bila tanah terlalu kering. “Varietas tebu yang paling populer itu varietas Bululawang (BL) yang masak akhir dan pringu yang masak awal,” kata Avi.

Dia mengatakan, dua varietas tersebut dianggap sebagai unggulan di Kabupaten Malang. Biasanya, dia melanjutkan, tebu yang ditanam sekitar akhir tahun, akan dipanen pada pertengahan tahun depan.

Baca Juga: Musim Kemarau, Damkar Kota Malang Minta Waspadai Potensi Kebakaran

“Untuk rendemen sekitar 7 persen. Setelah ada bongkar ratoon, kami berharap rendemen bisa mencapai 11-12 persen,” imbuhnya.

Bongkar ratoon yakni mengganti tanaman tebu sebelumnya dengan tanaman baru. Sebab, rawat ratoon atau meng gunakan tanaman lama untuk produksi hanya efektif dilakukan selama 5-6 tahun. Lebih dari jangka waktu tersebut, kualitas produksi tanaman tebu akan menurun. Sedangkan, menurutnya, masyarakat menerapkan rawat ratoon sampai 10 tahun. Oleh karena itu, dilakukan bongkar ratoon untuk meningkatkan produktivitas.

Seperti diberitakan, tahun ini Kabupaten Malang menerima kuota 7.500 hektare untuk bongkar ratoon. Avi melanjutkan, seluruh data potensi lahan yang masuk masih harus melewati proses verifikasi dan validasi (verval) lebih lanjut, baik secara teknis maupun administratif. (yun/dan)

Editor : A. Nugroho
#Sentra tebu #BL #bps #musim kemarau