MALANG KOTA, RADAR MALANG – Ancaman kebakaran kembali menghantui Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang saat musim kemarau. Hingga kini, fasilitas pengolah gas metana yang rusak akibat kebakaran besar pada 2023 belum kembali berfungsi. Kondisi itu membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang mengandalkan penyemprotan limbah susu untuk menekan risiko munculnya titik api.
Plh Kepala DLH Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran menjelaskan, suhu timbunan sampah meningkat drastis saat musim kemarau. Jika produksi gas metana tidak terkendali, potensi kebakaran bisa kembali terjadi seperti tiga tahun lalu.
Baca Juga: Kompensasi untuk Warga TPA Supit Urang Segera Cair, Simak Jadwalnya
Karena itu, DLH rutin menyemprotkan cairan limbah susu yang mengandung bakteri ke area timbunan sampah. Bakteri tersebut berfungsi menekan pembentukan gas metana yang selama ini menjadi salah satu penyebab kebakaran di TPA. ”Bakteri dalam cairan itu yang mengurangi gas metana,” ujar Raymond kemarin.
Dia mengungkapkan, sebelum kebakaran Agustus 2023, gas metana di TPA Supit Urang sebenarnya dimanfaatkan sebagai sumber energi. Namun, kebakaran saat itu meluluhlantakkan seluruh fasilitas pengolahannya sehingga hingga kini belum dapat dioperasikan kembali.
”Semua alat yang digunakan untuk pemanfaatan gas metana terbakar semua. Sehingga tidak bisa diolah lagi,” katanya.
Baca Juga: TPA Supit Urang Terancam Overload 2028, KLH Soroti Timbunan 500 Ton Sampah Per Hari di Kota Malang
Selain penyemprotan limbah susu, DLH juga menutup timbunan sampah dengan tanah secara berkala untuk mengurangi suplai oksigen yang dapat memicu api di dalam tumpukan sampah. Pengaturan ritase truk sampah juga dilakukan sebagai bagian dari mitigasi di area TPA seluas sekitar delapan hektare. (adk/adn)
Editor : A. Nugroho