BATU - Pola budidaya bawang merah di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo mulai berubah. Sekitar 80 persen petani kini memilih panen dini pada usia 40-50 hari atau saat masih muda. Strategi itu dipilih karena harga dinilai lebih stabil dan risiko budidaya lebih rendah. Permintaan pasar yang tinggi, mencapai 4-5 ton per hari juga menjadi alasan.
Perubahan pola panen ini menjadi respons petani terhadap fluktuasi harga bawang merah nasional. Mereka memilih menjual bawang muda atau bawang ijo. Komoditas itu dinilai lebih cepat menghasilkan uang.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno mengatakan panen muda memberikan sejumlah keuntungan. Salah satunya harga yang relatif stabil. Menurutnya, pasokan bawang muda masih terbatas. Sementara permintaan pasar terus tinggi.
“Pasarnya masih terbuka karena belum banyak daerah yang memasok bawang muda,” ujarnya. Selain harga, biaya produksi juga lebih rendah. Tanaman dipanen sebelum memasuki fase yang rentan serangan hama dan penyakit. Pengeluaran untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman pun dapat ditekan. Siklus tanam juga menjadi lebih singkat.
Dalam waktu 40 hingga 50 hari, petani sudah bisa memanen. Lahan kemudian dapat segera ditanami kembali. Petani asal Torongrejo Nur Sholeh mengaku strategi tersebut lebih menguntungkan dibanding menunggu panen umbi. Menurutnya, panen dini mengurangi risiko kerugian akibat harga yang tidak menentu.
“Bagi petani, yang penting cepat panen dan cepat menjadi uang,” katanya. Harga bawang muda di tingkat petani saat ini sekitar Rp 13 ribu per ikat. Sebelumnya sempat mencapai Rp 18 ribu per ikat pada awal Juni. Meski turun, harga tersebut dinilai masih memberikan keuntungan.
Nur Sholeh menyebut persaingan pasar bawang muda juga lebih terbatas. Pesaing utama hanya berasal dari Ngantang dan Pare. Berbeda dengan bawang umbi yang harus bersaing dengan sentra produksi dari berbagai daerah di Indonesia. “Kalau menunggu panen umbi, risikonya harga jatuh saat panen raya nasional,” tandasnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan