Kepala BPS Kota Malang Erny Fatma Setyoharini mengatakan, selama tiga bulan belakangan inflasi Kota Malang relatif terus menurun. Hal itu terlihat sejak Juli lalu, angka inflasi berada di angka 0,11 persen dan turun lagi menjadi 0,03 persen di bulan Agustus. ”Dan sekarang ini turun lagi menjadi deflasi 0,02 persen,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, deflasi tersebut didorong oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,85 persen. "Komoditas penyumbang deflasi telur ayam ras, cabai rawit dan bawang merah," bebernya. Disusul, kelompok kesehatan mengalami deflasi sebesar 0,04 persen. "Komoditas penyumbang terbesar obat penurun panas," lanjut Erny.
Kelompok penyumbang selanjutnya yakni rekreasi, olahraga dan budaya. Ketiganya mengalami deflasi sebesar 0,02 persen. Komoditi penyumbang terbesar yakni buku sekolah dasar. Sedangkan ada dua kelompok yang tidak menyumbang kenaikan dan penurunan atau di angka 0,00 persen. Diantaranya kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan dan kelompok penyedia makanan dan minuman atau restoran.
Sementara itu, kelompok pengeluaran yang menahan laju deflasi yaitu kelompok pengeluaran sepatu dan alas kaki yang mengalami inflasi sebesar 0,12 persen. Selanjutnya, kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 0,04 persen. Disusul, kelompok pengeluaran perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga.
"Komoditas penyumbang pengharum cucian, panci dan handuk," terang Erny.
Sementara itu, kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 0,58 persen. Komoditi penyumbang diantaranya tarif angkutan udara, mobil dan angkutan roda dua. Kelompok pengeluaran pendidikan juga mengalami inflasi sebesar 0,52 persen. Komoditi penyumbang yakni akademi atau perguruan tinggi. Terakhir, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 0,36 persen. Komoditas penyumbang terbesar tas travel.
Pewarta: Andika Satria Perdana Editor : Farik Fajarwati