Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pengusaha Pertashop Lagi Galau, Penjualan Nge-Drop karena Harga Pertamax Naik

Mardi Sampurno • Selasa, 7 Juni 2022 | 03:13 WIB
Salah satu mini outlet Pertashop yang  dibuka di Malang Raya. (Pertamina / ist)
Salah satu mini outlet Pertashop yang dibuka di Malang Raya. (Pertamina / ist)
MALANG RAYA- Pengusaha Pertashop sedang menjerit. Setidaknya dalam dua bulan terakhir ini. Kondisi itu dampak dari adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax dan Dexlite yang naik per 1 April lalu. Kenaikannya sangat drastis. Dari Rp 9 ribu per liter menjadi Rp 12 ribu. Konsumen pun kaget dengan kondisi ini. Sehingga mereka yang sebelumnya menggunakan Pertamax langsung mengalihkan ke Pertalite yang harganya kisaran Rp 7 ribu. Inilah yang membuat Pertashop banyak ditinggalkan konsumen. Apalagi Pertashop tidak boleh menjual Pertalite.

Dengan kondisi itu, mitra dari Pertamina tersebut harus berjuang mempertahankan tren penjualan agar Pertashop bisa bertahan. Karena penurunan omzet per hari begitu tajam. Rata-rata, sebelum ada kenaikan Pertamax, satu Pertashop bisa menjual BBM hingga 1.400 liter. Namun saat ini mereka hanya bisa memperoleh 300-400 liter per hari. Inilah yang membuat pengusaha "SPBU mini" itu “mengkis-mengkis”.

Photo
Photo


Seperti halnya yang dirasakan oleh Irawanto, salah satu pemilik Perstashop di Curungrejo, Kecamatan Kepanjen. Dia selama dua bulan terakhir terpaksa menerima kenyataan bahwa bisnisnya itu mengalami penurunan cukup drastis. Bisnis yang dirintisnya sejak Juni 2021 lalu itu mengalami penurunan omzet di atas 50 persen. ”Saat ini per bulan rata-rata saya meraup omzet kotor hanya Rp 10 juta saja, itu turun jauh ketimbang sebelum ada kenaikan harga BBM bisa tembus Rp 26 juta per bulan,” bebernya.

Tentu dengan adanya penurunan omzet itu membuatnya harus memutar cara agar bisnis Pertashop tetap jalan. Tindakan mengurangi karyawan pun terpaksa dia lakukan. Sebelumnya, dia mempekerjakan empat orang sebagai operator, namun saat ini tersisa dua orang saja.

Untuk menutupi biaya operasional seperti menggaji karyawan, Wawan, sapaan akrabnya, juga terpaksa menggunakan tabungan pribadi. Hanya dengan cara itulah bisnis Pertashop miliknya bisa bertahan. Apalagi jika mengingat modal yang dikeluarkannya juga terbilang besar, mencapai Rp 1,7 miliar. ”Tetap komitmen saja menjalani, sayang juga kalau harus ditutup karena pekerja di sini semuanya juga dari warga sekitar,” ungkap Wawan.

Hal sama juga dialami oleh pemilik Pertashop Dampit Ledy Agus Herwanto. Dia menjelaskan ada penurunan jumlah penjualan BBM selama dua bulan terakhir. Dia yang hanya menjual BBM jenis Pertamax terpaksa menerima kenyataan penjualan turun lebih dari 50 persen. ”Saat ini ya bisa sampai paling rendah 300 liter (per hari) saja,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Ledy hanya mencatat kenaikan saat Lebaran kemarin. Paling banyak dia bisa menjual BBM hingga 700 liter. Itu pun masih kalah jauh dibanding sebelum kenaikan harga BBM nonsubsidi beberapa bulan lalu yang bisa mencapai ribuan liter per hari.

Berbeda dengan Wawan, Ledy masih mempertahankan dua orang operator Pertashop dan satu admin. Dia hanya bisa pasrah melihat kondisi tersebut sembari berharap tetap ada masyarakat yang mau mengisi bahan bakar di Pertashop. ”Usaha harus jalan karena nilai investasinya cukup besar, maka ya harus bisa memanfaatkan usaha lain di Pertashop,” terangnya.

Sementara itu, Section head Communication PT Pertamina Patra Niaga Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara (Jatimbalinus) Arya Yusa Dwicandra mengungkapkan bahwa terkait kerugian yang dialami pengusaha tidak bisa digeneralisasi. ”Karena yang namanya usaha ada untung dan rugi, ya itu pasti ada risikonya" katanya saat dikonfirmasi kemarin (5/6). Arya menambahkan bahwa meski demikian, pihaknya dapat memastikan dari setiap liter yang dijual terdapat fee atau bayaran untuk pengusaha atau owner Pertashop. Dengan itu dia bisa memastikan pengusaha Pertashop tak sampai tutup total. "Sehingga berapa pun harga dari BBM tetap pengusaha mendapat keuntungan hasil penjualan," imbuhnya.

Saat ini total Pertashop yang beroperasi di wilayah Jatimbalinus sebanyak lebih dari 600 unit. Sementara di Malang Raya sudah ada 40 outlet. Namun untuk imbas dari kenaikan harga BBM apakah ada penutupan Pertashop, dia belum mengetahuinya. Sebab data itu dimiliki Pertamina pusat. Kemudian terkait pembinaan, Arya menjelaskan bahwa pihaknya memiliki tim di lapangan yang siap membantu komunikasi dan koordinasi. Selain itu juga ada Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas (Hiswana Migas) di setiap wilayah. Kumpulan wiraswasta itu menurutnya menjadi sarana komunikasi antarpengusaha. "Karena sifat kerja sama Pertashop adalah B to B atau business to business. Jadi kami menyerahkan pengelolaan Pertashop ke pengusaha masing-masing," tandas dia. (adn/mit/abm) Editor : Mardi Sampurno
#Harga Pertamax Naik #Pengusaha Pertashop #radar malang #Menjerit