Pemkot Belum Terima Pengajuan Izin Baru
BATU - Sekelas Kota Wisata Batu (KWB) yang sangat terkenal ternyata baru punya dua hotel bintang 5.
Yakni Golden Tulip Holland & Resort serta The Singhasari Resort.
Padahal, perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu menilai penambahan hotel bintang 5 bisa lebih mendorong sektor wisata di kota wisata itu.
Ketua PHRI Kota Batu Sujud Hariadi menilai persaingan hotel bintang 4, 3, dan seterusnya ke bawah terbilang cukup tajam.
Bukan hanya di internal kawasan Kota Batu.
Melainkan sudah berhadapan dengan hotel-hotel di Malang Raya.
Dia mencontohkan, ada rombongan memilih menginap di Kota Malang, tetapi berlibur di Kota Batu.
”Kalau yang terjadi seperti itu ya tidak bisa menyalahkan wisatawan. Tapi memang Kota Batu ini hotel bintang 5-nya kurang,” tuturnya.
Sujud menambahkan, wisatawan lokal yang terbiasa dengan kelas VIP pasti mengincar hotel bintang 5.
Apalagi wisatawan mancanegara.
Sebagian besar senang dengan fasilitas kelas mewah.
”Semoga ke depan hotel-hotel di Kota Batu yang di bawah bintang 5 bisa berubah menjadi bintang 5. Dengan catatan terus meningkatkan level kualitas,” katanya.
Namun, peningkatan semacam itu juga perlu diimbangi dengan okupansi atau tingkat keterisian yang stabil.
Baik pada masa weekday maupun weekend.
Untuk saat ini, okupansi hotel pada weekend memang tinggi.
Sekitar 80-90 persen. Sedangkan weekday di kisaran 50-60 persen.
Sayangnya, hingga kini belum ada permohonan izin baru untuk pembangunan hotel bintang 5 di Kota Batu.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Batu Muji Dwi Leksono kemarin.
Tidak seperti di Kota Malang yang dipastikan ada tambahan dua hotel bintang 5 tahun depan.
”Kalau melihat potensi penambahan bintang 5, ya bisa saja. Tapi, selama ini belum ada perizinan yang masuk ke kami,” ucapnya.
Sekadar informasi, ciri hotel bintang 5 adalah jumlah minimal kamar standar 100 dengan luas minimal 26 meter persegi.
Selanjutnya, memiliki 5 kamar suites dengan luas minimal 52 meter persegi.
Kemudian juga memiliki restoran, bar, kolam renang, tempat rekreasi, dan staf yang multi-profesional.
Karena belum ada pengajuan izin baru, Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu Arief As-Siddiq menyarankan untuk mengembangkan hotel yang sudah ada.
Mulai dari sumber daya manusia (SDM) hingga pemasarannya.
Dari hotel bintang 4 ke bawah itu, siapa tahu mereka bisa meningkatkan levelnya dan mendapatkan klasifikasi bintang 5.
Menurut Arief, penambahan hotel bintang lima memerlukan kajian yang mendalam.
”Khusus hotel bintang 5 harus punya nilai tambah. Jangan sekadar muncul hotel kelas baru tapi, okupansinya diabaikan," tambahnya.
Pernyataan Kadisparta Kota Batu sejalan dengan yang diungkapkan Assistant Marketing Communication Golden Tulip Holland & Resort Kota Batu Desmitha Warganegara.
Menurutnya, untuk menjadi hotel bintang 5 harus punya pelayanan profesional kepada para tamu.
”Sederhananya yaitu menanyakan apakah ada kekurangan dalam pelayanan check in hotel dan sebagainya,” tuturnya.
Bahkan, staf hotel bintang 5 selalu di-review (dinilai) selama 3 bulan sekali.
Penilaian itu juga disertai pembekalan pelatihan SDM.
Okupansi Stabil di Kota Malang
Sebagai perbandingan, okupansi hotel di Kota Malang relatif lebih stabil dibanding Kota Batu.
Pada 2022, okupansi weekday berada di kisaran 60 persen, sementara weekend 80 persen.
Untuk tahun ini, okupansi pada weekday sekitar 80 persen, sementara weekend bisa mencapai 100 persen.
Menurut data Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, jumlah hotel di Kota Malang saat ini mencapai 82 unit.
Terdiri dari hotel melati 42, hotel bintang 2 sebanyak 9 unit, dan bintang tiga 20 unit.
Sedangkan hotel bintang 4 sebanyak 9 unit dan hotel bintang lima hanya 3 unit.
Total jumlah kamar seluruh hotel mencapai 4.700.
Dengan okupansi rata-rata 80 persen, artinya ada sekitar 3.700 pengunjung hotel tiap hari di Kota Malang.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat rata-rata tamu menginap di hotel 1 sampai 2 hari.
Komposisi pada tiga bulan terakhir (Mei sampai Agustus) menunjukkan 98 persen wisatawan lokal dan 2 persen merupakan wisatawan asing.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang Agoes Basuki menjelaskan, okupansi 80 persen itu terjadi di semua kelas.
Jadi tidak ada yang paling favorit.
Mulai dari melati maupun kelas paling tinggi, yaitu bintang lima.
"Kalau weekend okupansi minimal bisa 95 persen. Hampir rata-rata mencapai 100 persen," terang Agoes.
Dengan kondisi itu, lanjut Agoes, wajar jika ada rencana penambahan hotel baru, khususnya bintang lima.
Sebab baru ada tiga hotel dan jumlah kamarnya terbatas.
Di, Grand Mercure ada 264 kamar, The Shalimar 44 kamar, dan Tugu 49 kamar.
”Misalnya hotel bintang lima nanti bertambah, kami meyakini okupansi tidak turun. Karena dengan membaiknya ekonomi pascapandemi, jumlah wisatawan di Kota Malang akan terus bertambah," terang Agoes.
Dengan bertambahnya unit, dia mengakui persaingan juga akan meningkat.
Dengan demikian, hotel bintang lima yang sudah ada harus bisa meningkatkan layanan mereka.
Sementara itu, Kepala Disporapar Kota Malang Baihaqi menyampaikan, untuk meningkatkan kunjungan tamu hotel, pihaknya mengandalkan event maupun wisata buatan.
Seperti Kajoetangan Heritage dan Kampung Warna-Warni.
"Event yang sudah kami buat seperti Malang Flower Carnival, Festival Padang Bulan, dan Malang 109. Ditargetkan hingga akhir tahun ada 2,7 juta wisatawan,” jelasnya.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang Arif Tri Sastyawan mengungkapkan strategi menggaet investasi pembangunan hotel bintang lima.
Salah satunya menyiapkan ruangan khusus di Mal Pelayanan Publik (MPP) Alun-Alun Merdeka. Itu sesuai dengan arahan Pj Wali Kota Wahyu Hidayat.
Ruangan tersebut akan didesain khusus layaknya untuk nasabah prioritas di bank-bank swasta.
”Nilai investasi yang besar itu membutuhkan penanganan khusus. Kami juga tidak mempersulit perizinan selama mereka menaati aturan. Dibuktikan tahun depan sudah ada dua hotel bintang lima yang akan dibangun," terang Arif.
Dia menekankan, hadirnya tambahan hotel ini tak hanya berdampak pada investasi.
Namun, akan memberikan efek domino kepada sektor lain.
Seperti kuliner, oleh-oleh dan pendapatan asli daerah dari pajak hotel. (ifa/adk/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana