Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Lokasi Jualan di Jalan Soekarno Hatta Paling Mahal, Berikut Ini Daftar Lengkap Harga Sewa di Tiga Pasar Takjil Terbesar Kota Malang

Bayu Mulya Putra • Rabu, 27 Maret 2024 | 17:08 WIB
Pasar takjil Jalan Surabaya Kota Malang
Pasar takjil Jalan Surabaya Kota Malang

MALANG KOTA - Pedagang di pasar takjil kawasan Soekarno Hatta (Soehat) harus merogoh kocek lebih dalam dibanding pedagang di tempat lain.

Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, biaya sewa satu lapak di Pasar Takjil Soehat berada di kisaran Rp 2,5 juta.

Namun, dari penggalian informasi di lapangan, diketahui biaya sewanya bisa mencapai Rp 3 juta ke atas. Itu untuk sewa selama bulan Ramadan (selengkapnya baca grafis).

”Satu bulan di sini Rp 3,2 juta, lebih murah jika dibandingkan di MOG (Mal Olympic Garden). Selain itu, ada biaya kebersihan Rp 6 ribu dan parkir Rp 3 ribu, itu dibayarkan per hari,” terang Farida, salah satu pedagang di sana.

Di luar bulan Ramadan, pedagang jajanan itu memang biasa menyewa lapak di MOG. 

Dengan harga sewa di Pasar Takjil Soehat, Farida mengatakan bila awalnya itu sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.

Namun, terjadi penurunan penjualan belakangan ini.

”Ramainya itu pas pekan pertama puasa. Sekarang ini mulai menurun, mungkin karena hujan juga,” tambahnya.

Sementara itu, pedagang lain Emi Maulidia menuturkan, memang ada biaya sewa dan biaya kebersihan.

Namun, dia tidak merinci besaran nominalnya.

”Kalau saya kan bukan musiman, sudah ikut paguyuban pedagang Soehat. Bayarnya biasanya tiap akhir bulan,” kata dia.

Dia mengaku pendapatan yang diperoleh meningkat dua kali lipat dibanding hari biasa.

Karena itu, harga sewa yang diberlakukan tidak begitu memberatkannya.

Wartawan koran ini mencoba mengonfirmasi harga sewa kepada paguyuban pedagang Pasar Takjil Soehat.

Namun, sayangnya tidak ada yang berkenan menjawab pertanyaan.

Keberadaan pasar takjil yang berada di ruas jalan besar menghadirkan persoalan lain.

Salah satunya yakni kemacetan lalu lintas (lalin).

Utamanya di tiga pasar takjil dadakan di Kota Malang.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang Widjaja Saleh Putra mengatakan, salah satu yang menjadi perhatian pihaknya yakni Pasar Takjil di Jalan Surabaya atau depan kampus Universitas Negeri Malang (UM).

Pasalnya, kantong parkir di sana masih kurang.

Berbeda dengan di Pasar Takjil Soehat, yang menggunakan Taman Krida Budaya sebagai salah satu titik parkir.

”Di UM itu sempat ada wacana penutupan jalan, kami sudah merencanakan rekayasa lalin. Tapi karena wewenang penutupan jalan ada di kepolisian, masih akan dibicarakan,” terangnya.

Untuk sementara, Jaya telah berkoordinasi dengan koordinator pasar takjil untuk membantu pemkot dalam hal penertiban.

”Sesuai surat edaran, tidak boleh berjualan di bahu jalan. Kemudian pelayanan drive thru juga dilarang,” tegas Jaya.

Kekhawatiran pemkot terkait keberadaan pasar takjil di Jalan Surabaya, Kecamatan Klojen cukup beralasan.

Sebab, di sana ada 239 lapak yang tersedia.

Koordinator Pasar Takjil Jalan Surabaya Wahyudi mengatakan, antusiasme calon pedagang di sana memang tinggi sejak awal.

”Kami membuka kuota 239 lapak dan langsung penuh dalam sekejap,” terang dia.

Pihaknya menarik biaya sewa Rp 10 ribu per lapak per hari.

”Kami tidak bertujuan profit, fokus untuk support UMKM,” bebernya.

Sebab, dia menyebut bila di Kecamatan Klojen ada banyak UMKM. Pendapatan sewa yang didapat dari pedagang itu digunakan untuk membayar biaya kebersihan. ”Kami juga membelikan takjil untuk Linmas dan Karang Taruna yang berjaga,” kata dia.

Karena itu, dia memastikan bila penarikan biaya sewa dilakukan atas persetujuan bersama.

Pria berusia 63 tahun itu mengelompokkan kuota pelapak.

Kuota terbanyak diberikan untuk warga Kelurahan Gadingkasri.

”Kami berikan 20 lapak tiap masingmasing RW,” jelasnya.

Kelurahan Gadingkasri sendiri memiliki 9 RW. Mereka juga menyediakan 15 lapak untuk mahasiswa UM.

Sebab, UM masih termasuk dalam wilayah Kecamatan Klojen.

Lalu kuota selebihnya akan diberikan ke warga di luar Klojen. Totalnya, ada 104 lapak untuk warga luar.

Jumlah stan yang diberikan tahun ini lebih banyak dari tahun kemarin.

Tahun 2023, kuota yang disediakan 140 lapak.

”Pedagang kami wajibkan pakai ID card untuk memudahkan petugas mengenali,” tambah Ketua LPMK Kecamatan Klojen itu.

Itu juga dilakukan untuk menghindari pedagang yang curang berjualan tanpa mendaftar.

Jumlah lapak di Pasar Takjil Jalan Muharto, Kecamatan Kedungkandang lebih sedikit.

Hanya berkisar 60-an lapak.

Ketua RT 6 Andik Dwi menyebut tidak semua lapak buka setiap hari.

”Karena itu kami menarik uang sewa dan kebersihan dengan sistem harian,” kata dia.

Selain ketidakpastian jumlah pedagang yang hadir, faktor keuntungan pedagang juga menjadi pertimbangan.

Andik menyebut bila beberapa pedagang mengeluhkan sepinya pembeli.

Sebab, pasar takjil serupa banyak menjamur di Kota Malang.

”Beberapa mengeluh lebih ramai tahun lalu. Jadi kadang kalau hujan deras seperti kemarin dan pasar sepi, kami tarik uang sewa,” jelas Andik.

Setiap pedagang yang berjualan di area Pasar Ramadan Jalan Muharto juga dikenai biaya kebersihan Rp 5 ribu. Sistemnya dengan menarik ke setiap stan tiap sore hari. ”Nanti masuk ke kas RW. Kebersihan itu juga untuk merawat barang-barang inventaris warga,” tambah pria berusia 44 tahun itu.

Andik menjelaskan bila rata-rata uang yang terkumpul tiap hari mencapai Rp 300 ribu. Itu merupakan angka minimal pendapatan harian.

Untuk tetap meramaikan pasar takjil di sana, Andik menerima orang luar kawasan Mergosono untuk berjualan di sana.

Namun, warga sekitar tetap diutamakan. Salah satu pedagang aneka minuman bernama Yanti mengaku cukup diuntungkan dengan sistem sewa harian itu.

Sebab, dia jadi tak terbebani di awal.

”Kalau sistem harian begini enaknya misal ada halangan berjualan jadi tidak rugi. Karena kalau tidak datang ya tidak bayar,” kata perempuan berusia 45 tahun itu. (adk/jb2/jb3/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#sewa #malang #pasar takjil suhat