Berdasar data Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang, rata-rata setiap bulan terdapat 20 wajib pajak (WP) baru di bidang kafe dan restoran.
Per Juni 2024, jumlah WP kafe dan restoran sudah mencapai angka 2.800.
Pesatnya pertumbuhan kafe dan restoran itu dipicu oleh banyaknya pendatang yang merupakan mahasiswa.
Itu bisa dibuktikan dengan menjamurnya kafe baru di Kecamatan Klojen dan Lowokwaru yang memang dekat kampus.
Misalnya, Jalan Soekarno Hatta dan Jalan Sigura-gura yang dekat dengan Universitas Brawijaya (UB).
Kemudian kafe-kafe di Jalan Jakarta yang dekat dengan Universitas Negeri Malang (UM).
Tempat kuliner di Jalan Sunan Kalijaga, Jalan Mertojoyo, dan Jalan Joyo Agung yang dekat dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang dan Universitas Islam Malang (Unisma).
Kepala Subbidang Pajak Daerah II Bidang Pajak Daerah Bapenda Kota Malang Ramdhani Adhy Perdana menyebutkan, sekitar 60 persen lebih WP kafe dan restoran terdapat di daerah Klojen dan Lowokwaru.
Selain itu, ghosting resto atau restoran online juga banyak bertebaran di Kota Malang. Dari keseluruhan WP restoran dan kafe, 260 di antaranya merupakan restoran online yang tidak menyediakan layanan makan di tempat atau dine in.
Perolehan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PJBT) Makanan dan Minuman pun meningkat.
Pada Juni 2024 tercatat Rp 81 miliar dari total target Rp 115 miliar.
Naik sekitar 17 persen dari perolehan semester pertama 2023 yang tercatat Rp 67,23 miliar.
Pajak restoran diambil dari 10 persen setiap transaksi pembeli.
Dengan hitungan persentase itu tersebut, nilai perputaran uang dari sektor restoran di Kota Malang selama enam bulan mencapai Rp 810 miliar.
Tidak hanya di Kota Malang, pertumbuhan bisnis kafe dan restoran juga merambat ke Kabupaten Malang.
Khususnya di Kecamatan Dau yang dekat dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Tribhuwana Tungga Dewi (Unitri).
Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Kota Malang Indra Setiyadi menyebutkan, lokasi menjadi salah satu faktor utama berhasilnya bisnis kuliner.
Kota Malang dengan banyaknya kampus dan mahasiswa menjadi lokasi yang strategis untuk berbisnis.
“Tidak hanya kuliner, kos hingga laundry juga tumbuh subur,” tuturnya.
Pengusaha dan investor yang memutuskan berbisnis di Kota Malang pun tidak hanya masyarakat lokal.
Ada juga yang dari luar kota. Seperti Surabaya hingga Jakarta.
Untuk restoran, kata Indra, segmen harga menengah dan menengah ke bawah memiliki potensi paling menjanjikan.
Itu karena mayoritas konsumen yang dibidik adalah mahasiswa.
Memang ada restoran baru yang membidik segmen menengah ke atas.
Tapi mereka tidak membidik mahasiswa sebagai konsumen utama.
Rumah Kos Tumbuh 10 Persen
Rumah kos juga masih tumbuh pesat di sekitar kampus.
Berdasar Data Bapenda Kota Malang, per akhir 2023 terdapat 1.426 wajib pajak rumah kos.
Melihat tren setiap tahunnya, pertumbuhan tahun ini diprediksi sampai 10 persen.
Fakta di lapangan tentu menunjukkan jumlah rumah kos di Kota Malang jauh lebih banyak.
Sebab, tidak sedikit pemilik rumah kos yang tidak mendaftarkan diri sebagai wajib pajak.
Salah satu pemilik kos bulanan di kecamatan Lowokwaru, Ninik Emijati, mengaku memulai bisnis rumah kos pada 2018.
Awalnya dia hanya memiliki satu rumah kos putra. Dibangun untuk menggaet mahasiswa baru Universitas Brawijaya (UB) dan Politeknik Negeri Malang (Polinema).
Kos putra itu memiliki 12 kamar yang dibanderol dengan harga Rp 500 ribu per bulan per kamar. Setiap tahun selalu penuh.
Kadang, peminat kamar kos harus mengantre atau menunggu ada penyewa yang keluar.
Keuntungan memiliki satu rumah kos membuat Ninik tergerak untuk membuat rumah kos lagi.
Pilihannya adalah rumah kos untuk mahasiswi.
Keinginan itu pun terealisasi pada 2019.
”Saya membangun rumah kos 14 kamar untuk perempuan.
Bangunannya lebih dekat dengan kampus. Karena itu saya sewakan dengan harga Rp 650 ribu per bulan.
Pemilik rumah kos baru di Kecamatan Lowokwaru, Joni Agung, juga melihat prospek bisnis yang menyasar mahasiswa masih sangat bagus.
Dua bulan lalu, pria yang juga berprofesi sebagai dosen mendirikan rumah kos dengan segmen yang agak berbeda.
Tarif sewanya Rp 1,2 juta per bulan.
”Memang targetnya untuk mahasiswa dari kalangan menengah ke atas, khususnya dari Universitas Brawijaya,” bebernya.
Meski dengan tarif sewa tinggi, rumah kos milik Joni sudah hampir penuh. Itu karena fasilitas yang ditawarkan juga lebih bagus. Seperti lokasi yang eksklusif, AC, laundry, hingga parkir mobil. (dur/ori/fat)