Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pemda Malang Raya Pantau Ketat Harga Bahan Pokok, Tingkatkan Kewaspadaan Pekan Depan

Fathoni Prakarsa Nanda • Minggu, 15 Desember 2024 | 00:30 WIB
SUMBANG INFLASI: Pedagang bawang merah di Pasar Oro-Oro Dowo mengakui adanya peningkatan harga sejak bulan November.
SUMBANG INFLASI: Pedagang bawang merah di Pasar Oro-Oro Dowo mengakui adanya peningkatan harga sejak bulan November.

MALANG KOTA – Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024, pemerintah daerah (pemda) Malang Raya memperketat pemantauan harga bahan pokok yang cenderung mengalami kenaikan.

Operasi pasar pun sudah dilakukan di beberapa tempat di Malang Raya.

Namun, harga sejumlah komoditas masih tetap naik karena tingginya permintaan di Malang Raya.

Di Kota Malang, pemkot baru sedang melaksanakan Gerakan Pasar Murah yang menyediakan bahanbahan pokok di bawah harga pasar.

Beras SPHP juga rutin digelontorkan untuk menstabilkan harga.

Hingga pekan kedua Desember 2024, kenaikan harga bahan pokok masih terbilang landai.

Tahun lalu, Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatat kalau inflasi akhir Desember 2023 sebesar 0,22 persen (month to month).

Lebih rendah dari November 2023 yang mengalami inflasi sebesar 0,40 persen (month to month).

Saat itu ada beberapa komoditas yang mendorong terjadinya inflasi.

Yakni angkutan udara, bawang merah, cabai merah, cabai rawit, dan emas perhiasan dengan andil masing-masing sebesar 0,06 persen, 0,05 persen, 0,05 persen, 0,03 persen dan 0,02 persen.

Hal itu karena lonjakan permintaan untuk tiket angkutan udara maupun bahanbahan pokok.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang Umar Sjaifudin mengatakan, untuk tahun ini, inflasi dan rata-rata kenaikan harga bahan pokok baru bisa diketahui pekan depan.

Namun, untuk November lalu terjadi inflasi sebesar 0,24 persen.

“Naik dibandingkan inflasi Oktober yang sebesar 0,20 persen,” jelas dia.

Umar menyebut secara umum kondisi inflasi saat ini masih sangat terkendali.

Terutama secara tahunan (year to year), inflasi Kota Malang sebesar 1,22 persen.

Angka itu masih di bawah inflasi nasional dan Jawa Timur.

Namun dia mengingatkan bahwa pekan depan kewaspadaan perlu ditingkatkan.

Sebab, menjelang Nataru biasanya terjadi inflasi karena permintaan bahan pokok dan tiket angkutan udara.

”Tapi pada Desember ini ada penyesuaian harga BBM untuk angkutan udara sesuai imbauan presiden. Kemungkinan tidak terjadi inflasi di sektor itu,” imbuhnya.

Sementara untuk harga bahan pokok, beberapa komoditas berpotensi mengalami kenaikan harga.

Misalnya bawang merah, daging ayam ras, cabai rawit, dan telur ayam ras.

Tapi data pastinya tetap menunggu pekan depan Terpisah, Kepala Tim Pengedali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang Enny Handayani menyebut kalau inflasi saat ini masih terkendali.

Sebagai antisipasi potensi kenaikan harga bahan pokok menjelang Nataru, TPID akan melakukan kunjungan ke lapangan dan sidak ke distributor maupun pasar modern pekan depan.

“Kami juga akan memantau ketersediannya,” ucap dia.

Untuk saat ini, Gerakan Pangan Murah (GPM) masih berlangsung.

Program tersebut dilakukan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan) Kota Malang sejak 11 November.

Ada 19 kelurahan yang sudah dijangkau.

Beberapa komoditas yang disediakan dalam program tersebut antara lain beras dan minyak goreng.

Imbas Cuaca Ekstrem

Sementara itu, cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi menyebabkan beberapa daerah di Kabupaten Malang mengalami gagal panen.

Mulai dari beras, cabai, tomat, bawang putih, bawang merah, hingga bahan pokok lain.

Ditambah meningkatnya permintaan, harga sebagian bahan pokok pun merangkak naik.

Hal itu bisa diketahui dari data perkembangan harga bahan pokok dan barang penting lain pada periode 7 November hingga 2 Desember 2024.

Contohnya bawang merah yang semula harganya di kisaran Rp 26 ribu per kilogram.

Saat ini sudah naik 14 persen hingga menyentuh angka Rp 30 ribu.

Begitu juga dengan bawang putih yang semula Rp 35 ribu per kilogram.

Saat ini sudah naik 5 persen menjadi Rp 38 ribu.

Komoditas lain seperti tomat juga mengalami kenaikan 4 persen.

Saat ini per kilogram tomat dihargai Rp 12 ribu.

“Kami memprediksi inflasi bulan Desember bisa ditekan hingga angka 0,80 persen,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang Muhammad Nur Fuad Fauzi.

Untuk mencegah lonjakan harga, pihaknya bekerja sama dengan TPID melakukan operasi di empat pasar besar.

Yaitu Pasar Ngantang, Pasar Bakroto (Kecamatan Ampelgading), Pasar Sumberpucung, dan Pasar Tumpang.

Pemilihan keempat pasar itu didasarkan pada distribusi empat arah mata angin.

Sembari melaksanakan operasi Subuh Keliling (Suling) untuk memantau harga, TPID Kabupaten Malang juga menggelar Pasar Murah.

Penjualan secara langsung bahanbahan pokok pada masyarakat dengan harga lebih murah dari pasaran itu bertujuan mengimbangi stabilitas harga.

Di sisi lain, Disperindag juga membentuk Satgas Pangan yang beranggotakan pegawai Disperindag dan Satreskrim Polres Malang.

Tugasnya memantau harga dan stok bahan pokok.

Termasuk mengawasi potensi spekulasi harga, penimbunan barang, serta distribusi barang yang tidak lancar.

Berkaitan dengan stok bahan pokok jelang Nataru, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Malang Mahila Surya Dewi mengklaim dalam kondisi aman.

Ketersediaan bahan pokok pada akhir tahun itu memang tidak bisa mencegah inflasi.

Tapi setidaknya bisa mengurangi laju inflasi.

”Mulai dari beras, gula, minyak, tepung, hingga garam, Insya Allah stoknya aman sampai akhir tahun,” ujarnya.

Salah satu pedagang bahan pokok di Pasar Kepanjen bernama Sunamah, 58, mengaku sangat memahami kenaikan harga jelang Nataru.

Kelangkaan stok yang disebabkan cuaca menjadi faktor utama.

”Harga bisa berubah-ubah tiap dua hari sekali, bergantung ketersediaan di Pasar Gadang,” pungkasnya. 

Sidak Distributor

Di Kota Batu, harga tiga bahan pokok terpantau sudah mengalami kenaikan.

Yaitu bawang merah, bawang putih, dan telur.

Kenaikan terjadi sekitar seminggu terakhir akibat meningkatnya permintaan mendekati libur Nataru.

Pekan lalu, harga bawang merah Rp 36 ribu per kilogram, bawang putih Rp 38.750 per kilogram, dan telur ayam ras Rp 26 ribu per kilogram.

Kemarin (13/12) harga bawang merah menjadi Rp 39.750 per kilogram, bawang putih Rp 40 ribu per kilogram, dan telur Rp 28 ribu per kilogram.

Kabid Perdagangan Diskumperindag Kota Batu Nurbianto Puji mengungkapkan, untuk harga bahan kebutuhan pokok lain seperti beras dan minyak goreng masih tidak berubah.

Tapi, permintaan minyak goreng di pasaran sudah meningkat.

Warga Batu mulai membeli bahanbahan pokok melebihi kebiasaan untuk persiapan libur panjang.

Mayoritas dilakukan oleh mereka yang memiliki usaha di bidang makanan dan minuman untuk stok dagangan.

Diprediksi, semakin mendekati akhir tahun akan terus terjadi kenaikan harga.

Sepekan sebelum tahun baru, Pemkot Batu berencana turun ke lapangan guna memastikan kelancaran distribusi bahan pokok.

Total ada sepuluh distributor di Kota Batu yang akan dicek.

”Apabila nanti dirasa terjadi lonjakan harga, kami akan menggelar operasi pasar,” ujarnya.

Salah satu pedagang sayur di Pasar Induk Among Tani, Nur Laela, mengakui beberapa komoditas mengalami kenaikan harga.

Seperti selada yang sebelumnya hanya sekitar Rp 15 ribu, kini menjadi Rp 28 per kilogram.

Kubis yang awalnya Rp 4 ribu per kilogram juga naik menjadi Rp 6 ribu per kilogram.

“Karena hujan dan akhir tahun ini, barang jadi sulit,” tandasnya. (mel/aff/iza/fat)

 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#pemda #Malang Raya #Harga #bahan pokok