Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perputaran Uang Tebu di Malang Tembus Rp 3,39 Triliun

Mahmudan • Sabtu, 14 Juni 2025 | 22:49 WIB
PRODUKSI MENINGKAT: Truk tebu melintas di Jalan Kolonel Sugiono, Kota Malang kemarin. Produksi tebu di Bumi Kanjuruhan tahun ini diperkirakan mencapai 4,23 juta ton.
PRODUKSI MENINGKAT: Truk tebu melintas di Jalan Kolonel Sugiono, Kota Malang kemarin. Produksi tebu di Bumi Kanjuruhan tahun ini diperkirakan mencapai 4,23 juta ton.

 

KEPANJEN – Perputaran uang di mesin penggilingan tebu sangat fantastis, yakni menembus Rp 3,18 triliun sampai Rp 3,39 triliun. Itu dengan asumsi semua tebu lokal masuk ke pabrik gula (PG) di Malang raya, yakni PG Krebet Baru Bululawang dan PG Kebonagung, Pakisaji.

Namun jika hanya 50 persen yang masuk PG di Malang raya, sedangkan sisanya dikirim ke Blitar dan Kediri, angka perputaran uang di lahan tebu meningkat. Sebab, uang hasil penjualan tebu di PG luar daerah lebih besar.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kanjuruhan, harga tebu di PG Krebet Baru maupun PG Kebonagung berkisar Rp 75 ribu sampai Rp 80 ribu per kuintal. Angkanya bisa naik maupun turun tergantung rendemen, namun perubahannya tidak jauh. Sementara jika petani tebu di Malang raya menjual ke PG di luar daerah, angkanya bisa mencapai Rp 90 ribu per kuintal.

Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang mengungkap, produksi tebu pada 2024 mencapai 4,23 juta ton. Jika diasumsikan semuanya dikirim ke PG di Malang dengan harga Rp 75 ribu-Rp 80 ribu per kuintal, angkanya menembus Rp 3,18 triliun-Rp 3,39 triliun. Angkanya akan lebih besar jika sebagian masuk ke PG di Blitar maupun Kediri.

Kepala DTPHP Kabupaten Malang Avicenna Medisica Sani Putera membenarkan adanya tebu yang dipasok ke luar kota. Namun dia tidak mencatat persis jumlahnya.

“Tebu-tebu tersebut dikirim ke dua PG (Pabrik Gula), yaitu PG Kebonagung dan PG Krebet Baru. Ada juga yang dikirim ke luar Malang, seperti ke Blitar,” ujar Kepala DTPHP Kabupaten Malang Avicenna Medisica Sani Putera kemarin (13/6).

Temuan wartawan koran ini di lapangan, banyak petani yang mengirim tebu ke Blitar maupun Kediri lantaran faktor harga. Harga tebu meningkat lantaran pihak PG memberi kebijakan subsidi untuk tebu luar kota.

Kebijakan tersebut tidak hanya diterapkan PG luar daerah, namun PG di Malang seperti PG Krebet Baru dan PG Kebonagung juga memberlakukan kebijakan serupa. Oleh karena itu, tidak sedikit tebu luar daerah yang masuk ke Malang. (yun/dan)

 

 

Editor : A. Nugroho
#tebu #Produksi #Bumi Kanjuruhan #pabrik gula