MALANG KOTA - Meski memiliki keterbatasan lahan pertanian, Pemkot Malang tetap menargetkan produksi pertanian atau hasil panen bisa mencapai 15 ribu ton per tahun. Artinya, tiap bulan produksi pertanian bisa menghasilkan 1.250 ton.
Target itu diupayakan melalui bantuan rutin yang disalurkan kepada gabungan kelompok tani (gapoktan) di berbagai wilayah. Seperti beberapa waktu lalu, sebanyak 20 gabungan kelompok tani (gapoktan) yang tersebar di empat kecamatan menerima berbagai jenis bantuan alat dan benih pertanian.
Bantuan tersebut merupakan bagian dari strategi untuk menjaga produktivitas dan ketahanan pangan di Kota Malang. Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, dukungan itu juga menjadi bentuk upaya menjaga swasembada pangan daerah.
”Kami ingin target 15 ribu ton per tahun bisa tercapai secara konsisten. Maka kami optimalkan sarana produksi dan teknologi,” ujarnya. Salah satu bantuan yang diserahkan adalah alat panen padi senilai Rp 500 juta yang berasal dari Presiden RI Prabowo Subianto.
Alat tersebut diserahkan kepada petani di Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang. Selain alat panen, petani juga mendapat hand tractor, mulsa plastik, alat pemotong padi, serta dua unit hammer mill untuk pengolahan pupuk organik.
Tak ketinggalan, pemerintah juga menyalurkan 5,5 ton benih padi dan 330 kilogram benih jagung. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Slamet Husnan Hariadi menyebut bahwa bantuan alat panen mampu memangkas waktu kerja secara signifikan.
”Kalau dengan tenaga manusia butuh sepuluh hari, alat ini bisa panen empat hektare hanya dalam dua hingga tiga jam,” jelasnya. Total nilai bantuan mencapai hampir Rp 1 miliar.
Menariknya, bantuan-bantuan tersebut tidak bersifat eksklusif. Gapoktan yang menerima bisa meminjamkannya ke gapoktan lain berdasarkan kesepakatan bersama. Model berbagi alat ini diharapkan bisa memperluas dampak dan mendorong pencapaian target bulanan. (mel/adn)
Editor : A. Nugroho