KEPANJEN – Dunia industri rokok di Bumi Kanjuruhan sedang kekurangan tenaga pelinting sigaret kretek tangan (SKT). Banyak pabrik kini berlomba mencari cara untuk menambah sekaligus meningkatkan kemampuan tenaga kerjanya. Salah satu upaya yang ditempuh adalah mengajukan pelatihan linting rokok ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang.
Kepala Disperindag Kabupaten Malang Muhammad Nur Fuad Fauzi mengungkapkan hingga saat ini sudah ada 11 perusahaan yang mengajukan program pelatihan tersebut. ”Total ada 11 perusahaan yang mengajukan pelatihan, mulai dari satu kali hingga sembilan kali pengajuan. Yang paling banyak dari Gudang Baru Berkah, sampai sembilan kali,” terangnya.
Sebelas perusahaan itu di antaranya Gudang Baru Berkah, Cakra Mas Jaya, Santoso Jaya Emas, Sayapmas Nusantara, Pinang Jaya, Jaya Pratama, Karya Bina Santosa, Kapal Sakti Nusantara, Atraco Multiguna, Rukun Global Indojaya, dan Mardianto. Total dari seluruh pengajuan tercatat 26 sesi pelatihan.
Setiap tahap pelatihan diikuti 50 peserta. Artinya, Disperindag memberi pelatihan linting rokok kepada 1.300 orang. Hingga akhir Oktober, sudah terlaksana 17 sesi dengan total 850 orang peserta.
”Semua peserta adalah tenaga magang dari pabrik yang rata-rata sudah bekerja maksimal satu tahun. Jadi, pelatihan ini ibarat peningkatan keterampilan sebelum mereka benar-benar jadi tenaga tetap,” kata Fuad.
Namun, kebutuhan tenaga linting di Kabupaten Malang masih jauh dari terpenuhi. Tercatat ada 114 pabrik rokok di wilayah ini. Semuanya membutuhkan antara 6.000–7.000 pekerja SKT. Gaji yang ditawarkan pun cukup tinggi. Beberapa pabrik berani membayar hingga Rp 7 juta per bulan bagi pekerja yang mampu melinting lebih dari seribu batang rokok per hari.
”Masalahnya, tidak semua bisa mencapai target itu. Karena butuh kecepatan dan ketelitian tinggi. Banyak perusahaan kesulitan mencari tenaga dengan kemampuan seperti itu,” jelas Fuad.
Untuk mengatasi kekurangan tenaga, sejumlah pabrik memasang spanduk lowongan, bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), bahkan membuka pelatihan mandiri. Namun, hingga kini kebutuhan masih belum terpenuhi. “Pelatihan ini jadi salah satu solusi agar tenaga magang bisa langsung siap kerja,” pungkas Fuad. (biy/adn)
Editor : A. Nugroho