Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Rantai Industri Kopi Lokal di Kota Malang Belum Saling Terkoneksi

Aditya Novrian • Rabu, 5 November 2025 | 18:37 WIB
PENGGERAK EKONOMI: Seorang barista menyajikan kopi kepada pembeli dalam sebuah pameran di Universitas Brawijaya (UB) pada Senin (3/11).
PENGGERAK EKONOMI: Seorang barista menyajikan kopi kepada pembeli dalam sebuah pameran di Universitas Brawijaya (UB) pada Senin (3/11).

MALANG KOTA – Kafe sudah menjamur di setiap sudut Kota Malang. Tapi di balik hiruk-pikuknya aroma espresso dan latte art, rantai industri kopinya ternyata masih keropos. Petani, roaster, barista, hingga pengusaha kopi berjalan sendiri-sendiri tanpa jembatan yang menghubungkan mereka.

Kesenjangan itu disorot oleh Bank Indonesia (BI) Malang dan Universitas Brawijaya (UB). Menurut mereka, butuh ada wadah khusus untuk rantai industri tersebut bertemu. Misalnya dalam sebuah pameran.

”Kopi kita potensinya besar, tapi belum punya sistem yang kokoh. Kalau mau berkelanjutan, harus diperkuat dari sisi kelembagaan, SDM, dan akses pembiayaan,” tegas Kepala Kantor Perwakilan BI Malang Febrina.

Febrina menilai, kopi Arjuno, Dampit, hingga Wonosari bisa jadi penggerak ekonomi. Asalkan dikelola secara terintegrasi.

Dari sisi akademik, UB ikut mendorong riset dan inovasi pengolahan kopi agar tak berhenti di tren gaya hidup. ”Kami ingin kopi jadi produk lokal yang naik kelas lewat sains, bukan sekadar gaya,” kata Rektor UB Prof Widodo.

Barista muda Adin Firmansyah dari Amstirdam Coffee membawa semangat yang sama. Ia memperkenalkan hometown blend. Yakni campuran robusta Tirtoyudo dan arabika Flores yang jadi andalan kafenya. ”Kopi lokal itu kuat, asal tahu cara mengolah dan menjualnya,” ujarnya.

Lewat sebuah wadah khusus, ekosistem kopi Malang diharapkan tak hanya ramai di cangkir-cangkir kafe. Tapi juga menggairahkan ekonomi dari kebun sampai meja seduh. (aff/adn)

Editor : A. Nugroho
#kopian #BI #barista #UB