LAILATUL Farida mengawali kariernya di bidang fashion sejak sembilan tahun silam. Di kamar berukuran 2x3 meter, dia mulai berkreasi merancang pakaian muslimah. Kemudian memasarkan secara online. Seiring berjalannya waktu, usahanya pun semakin berkem bang hingga dia merekrut karyawan.
“Karyawan kami ada sekitar 35 orang. Kami member daya kan jandajanda dan adikadik yang baru lulus SMK. Adik adik yang baru lulus SMK itu awalnya magang, jika kinerjanya bagus, kami rekrut jadi karyawan,” ujar perempuan 46 tahun itu.
Ada bagian menjahit, desainer grafis, hingga operator digital printer. “Bersama tim kreatif, kami biasanya diskusi terkait tema, warna, dan tren yang saat ini sedang berkembang. Jadi semua motif itu kami bikin sendiri,” imbuhnya.
Begitu selesai merancang motif, dilanjutkan mencetak menggunakan digital printing. Dalam proses tersebut dilakukan uji coba warna yang cocok dengan motifnya. Warna yang dipilih tidak hanya warnawarna dasar seperti biru dan merah. Timnya terkadang mencari warna lain, seperti sage dan maroon burgundy. Ketika warna dan motif dirasa sesuai, Laila akan merancang model pakaiannya.
Rancangan tersebut selalu disesuaikan dengan tren supaya tidak monoton dan bisa meningkatkan kepercayaan diri bagi yang memakainya. Per bulan selalu ada desain baru yang diluncurkan. “Saya mencoba keluar dari pakem. Misalnya hijab segi empat. Namun karena pakaian muslimah jadi harus sesuai syariat, seperti menutup dada dan punggung,” terang dosen di Program Studi Manajemen UIN Maliki itu.
Selain itu, juga ada berbagai jenis pakaian yang dirancang sesuai penggunaannya. Misalnya daily wear dan evening gown. Harganya bervariasi. Untuk daily wear mulai Rp 1 juta dan evening gown berkisar antara Rp 4 juta – Rp 7 juta. Bahan maupun ornamen yang dipakai memang premium. Seperti ada tambahan swarovski dan bordir Prancis. Ada juga luxurious wear yang termasuk eksklusif.
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, dia biasanya akan meluncurkan produk mukenah. Pakaian untuk haji dan umrah juga dijual. “Saya sangat senang kalau ada pembeli yang umrah memakai baju saya, kemudian berfoto di tanah suci. Bukan tentang nilai transaksinya, melain kan nilai manfaatnya. Melihat produk saya dipakai untuk beribadah di Ka’bah itu sangat menyenangkan,” lanjutnya.
Pemasarannya tidak dia lakukan sendiri. Laila memiliki lebih dari 100 reseller di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, ada 35 reseller yang aktif dan 15 di antaranya berasal dari Pulau Jawa dan Madura. Seperti di Kota Malang ada dua reseller, Dampit dan Wajak masingmasing ada satu reseller. Sedangkan di luar Jawa, ada di Kalimantan dan Sulawesi.
Semua reseller diperlakukan sama dan profesional. Hak dan kewajiban maupun syarat dan ketentuannya sama. “Jika mencapai target tertentu, reseller akan kami berikan reward tertentu,” kata dia.
Dia juga memanfaatkan marketing berbasis komunitas. Misalnya dengan aktif ke pengajian maupun arisan tempat ibu ibu sosialita berkumpul. Dengan menjalin hubungan baik dengan komunitas, konsumennya pun terus bertambah. Misalnya saat mengadakan fashion show, satu jamaah pengajian yang berjumlah 100 orang akan datang. Selain itu, hingga saat ini, dia juga memanfaatkan media sosial untuk pemasaran. Misalnya melalui live di TikTok dan Instagram. Namun, produk yang dijual di live tersebut berbeda dengan produk di reseller. Supaya ada sharing profit.
Hingga kini, Laila pun terus memperluas jangkauan pasarnya. Seperti pada September lalu, dia berpartisipasi dalam Spark Fashion Academy (SFA) di Main Atrium, Senayan City, Jakarta Pusat. Pada 30 November mendatang, dia juga akan meluncurkan produk Raya Collection dan akan digelar fashion show bersama Reza Dangdut Academy. “Ke depan, goals kami bisa menembus pasar internasional,” pungkasnya. (yun/dan)
Editor : Aditya Novrian