RADAR MALANG-Perang antara Amerika-Israel dengan Iran yang masih berlangsung membuat pedagang keripik tempe dan tempe di Kampung Tempe Sanan harus putar otak. Itu karena, konflik di Timur Tengah tersebut menyebabkan harga bahan baku naik. Karena kondisi itu, harus melakukan penyesuian agar roda produksi tetap berjalan.
Ketua Pokdarwis Kampung Tempe Sanan Trinil Sri Wahyuni mengungkapkan, salah satu bahan baku yang harganya naik adalah kedelai. Harga kedelai yang dijual melalui koperasi sekarang di angka Rp 16 ribu.
”Karena kedelai kami impor dari Amerika,” sebut Trinil. Tak hanya kedelai, tapi juga minyak goreng. Kemudian plastik untuk kemasan tempe juga naik hampir 100 persen.
Dengan kondisi yang ada, para perajin tempe maupun keripik tempe di Kampung Tempe Sanan harus melakukan penyesuaian. Yang biasanya membeli hingga dua pack plastik untuk kemasan keripik tempe, sekarang tidak sampai jumlah tersebut.
Selain itu, mengurangi kepingan keripik tempe dalam kemasan. Jumlah kepingan yang dikurangi tidak banyak. ”Biasanya sekitar 1-2 keping,” ungkap Trinil.
Kemudian, pihaknya fokus melayani pesanan saja. Produk yang dibuat tidak banyak. Di samping karena biaya produksi yang naik karena pengaruh harga bahan baku hingga kemasan, juga karena daya beli masyarakat sedang menurun.
Kenaikan harga kedelai juga dirasakan salah satu home industry di Kampung Tempe Sanan. Salah satu pegawai home industry yang bernama Afriantoro mengungkapkan, normalnya harga kedelai adalah Rp 9.800 per kilogram.
”Sudah naik Rp 10 ribu lebih selama April ini,” sebut Afriantoro. Karena kenaikan harga kedelai, pihaknya harus mengurangi ukuran tempe yang diproduksi. Penyesuaian sekitar 1 sentimeter.
Namun beruntunnya, sejumlah pelanggan tidak sampai komplain. Setiap hari, kedelai yang habis untuk produksi juga tak banyak berubah. Berkisar antara 5-7 kuintal. (mel/gp)
Editor : Galih R Prasetyo