MALANG KOTA, RADAR MALANG – Harga emas Antam kembali turun. Setelah sempat berada di level tinggi, harga logam mulia kini tercatat di Rp2,84 juta per gram, turun Rp44 ribu dibanding harga sebelumnya Rp2.884.000.
Penurunan ini juga terjadi pada harga buyback atau harga jual kembali yang kini berada di kisaran Rp2,4 juta per gram.
Turunnya harga emas justru memicu peningkatan minat beli masyarakat.
Baca Juga: Cicil Emas di BRImo Makin Mudah, Mulai 0,5 Gram Dapat Cashback Rp 200 Ribu
Di Pegadaian Cabang Malang, permintaan emas terutama gramasi kecil dilaporkan meningkat cukup signifikan, bahkan stok disebut mulai terbatas.
“Saat ini emas dengan gramasi kecil ada, tapi stoknya rebutan,” ujar Humas Pegadaian Malang Herlin Ira.
Berdasarkan data akhir Maret, stok emas fisik di Pegadaian Malang tercatat terbatas.
Untuk merek Galeri 24, tersisa lima keping emas 100 gram.
Sementara Antam Retro hanya tersisa dua keping ukuran 50 gram, dan UBS Gold tersisa satu keping ukuran 100 gram.
Kondisi itu juga berdampak pada nasabah cicil emas digital yang ingin mencetak emas fisik.
Baca Juga: Harga Emas Antam Anjlok Rp15.000 Hari Ini, Simak Rincian Harga Per Gramnya
Sebagian nasabah dilaporkan ikut mengantre karena harus menunggu ketersediaan stok gramasi kecil.
Hingga kini, Pegadaian Malang masih menunggu tambahan kiriman stok dari pusat.
Meski harga emas turun, Pegadaian mengimbau nasabah tidak panik menjual aset dan menghindari langkah cut loss atau menjual dalam kondisi rugi.
Menurut Herlin, pelemahan harga emas saat ini diduga dipengaruhi momentum jelang musim haji, ketika sebagian masyarakat cenderung melepas aset emas untuk kebutuhan dana.
“Perkiraan harga logam mulia itu berpotensi naik lagi saat musim haji rampung nanti,” pungkasnya.
Baca Juga: Harga Turun, Stok Emas Gramasi Kecil di Pegadaian Mulai Langka
Fenomena ini membuat banyak investor justru melihat penurunan harga emas Antam sebagai momentum akumulasi, bukan alasan melepas aset.
Dengan permintaan yang tetap tinggi meski harga turun, pergerakan emas dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan masih menjadi perhatian pelaku investasi.
Editor : Aditya Novrian