MALANG KOTA, RADAR MALANG - Jelang tahun ajaran baru 2026/2027, penjualan seragam sekolah mulai mengalami peningkatan hingga 40 persen dibanding bulan sebelumnya. Namun, kalau dibanding tahun lalu, angka penjualan seragam sekolah turun sekitar 20 persen.
Alasan turunnya penjualan seragam cukup beragam. Paling banyak karena orang tua sedang menahan diri berbelanja keperluan karena kondisi ekonomi belum stabil. Untuk itu, beberapa wali murid yang biasa membelikan anak seragam baru mulai berkurang.
Baca Juga: Seribu Siswa di Sekolah Swasta Dijatah Seragam Gratis
Arfad Collection, salah satu toko di Jalan Zainul Arifin, Klojen menuturkan, bulan ini toko seragam yang memproduksi lewat konveksinya sendiri mencatat kenaikan penjualan hingga tiga kali lipat. Terutama untuk penjualan pada akhir pekan.
”Untuk pembeli rata-rata dari Kabupaten Malang dan Kota Malang,” ujar Hana Safira Rahmania, penjaga toko Arfad Collection. Tahun ini penjualan di tempatnya didominasi seragam SD. Berbeda dengan tahun lalu yang merata untuk seragam SD, SMP, dan SMA.
Dia juga memprediksikan penjualan paling ramai terjadi pada sehari sebelum masuk sekolah. Seragam kemeja putih di tempatnya dijual mulai Rp 55 ribu. Sementara celana mulai Rp 80 ribu.
Baca Juga: Permintaan Seragam Sekolah dan Perlengkapan Belajar Meningkat Jelang Tahun Ajaran Baru
Hana memprediksikan ramainya penjualan seragam bakal terus berlanjut hingga Agustus. Tepatnya saat musim mahasiswa baru. Sebab beberapa datang mencari celana hitam dan atasan putih.
Selain seragam sekolah, penjualan perlengkapan lain seperti dasi, topi, dan ikat pinggang juga ikut naik dibanding bulan Juni. Sebab pembeli rata-rata mengambil seragam dalam satu paket. Sudah termasuk celana, baju, dan perlengkapan sekolah lainnya.
Kenaikan penjualan dibanding bulan sebelumnya juga diakui Arafah, salah satu penjual seragam di Pasar Besar Malang. Di tempatnya paling banyak dicari seragam kemeja putih dan celana atau rok biru untuk anak SMP. ”Sekarang banyak yang mencari seragam harus sesuai kainnya dengan seragam sekolah sebelumnya, itu yang bikin sulit,” ujar dia.
Beberapa pelanggan juga membeli seragam atau perlengkapan lain dalam jumlah banyak untuk dijual kembali di daerah masing-masing. Seperti dasi atau topi yang dibeli seharga Rp 20 ribu, dan bisa dijual kembali hingga Rp 30 ribu. (aff/by)
Editor : A. Nugroho