NAPAS Alimin Adi Waluyo masih memburu ketika menjawab voice note WhatsApp dari Jawa Pos Radar Malang kemarin (13/3).
Arah jarum jam menunjukkan pukul 09.00 WIB, tapi di Amerika Serikat (AS) sudah pukul 21.00.
”Saya baru pulang kuliah. Di sini (AS) suhunya minus 1 derajat Celsius,” ujar Alimin yang sedang menempuh S3 di Washington State University, Pullman, Washington, Amerika.
Pria asal Songgokerto, Kota Batu itu sudah sembilan bulan tinggal di Amerika. Ramadan tahun ini merupakan puasa tahun pertama di mancanegara.
”Kalau di Kota Batu, rata-rata suhunya 18 derajat Celsius,” tambah dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.
Meski harus memakai pakaian berlapis tiga, dia masih bisa menyesuaikan dengan dinginnya suhu di negeri Paman Sam itu.
Itu karena dia pernah merasakan suhu serupa, yakni ketika di kawasan Gunung Bromo saat subuh.
Pengalaman merasakan suhu serupa itulah yang membuat dia tidak tertantang, meski puasa di Amerika satu jam lebih lama dibandingkan Indonesia.
”Sepertinya tidak benar-benar ada challenging (menantang), meski durasi puasa di sini 14 jam-an,” kata dia.
Yang membuat dia kaget adalah suasananya.
Sejak hari pertama bulan puasa, dia merasakan tidak ada spirit Ramadan.
Tak ada bazaar Ramadan.
Juga tidak mendengar suara toa masjid membangunkan warga untuk sahur.
”Semuanya serba flat. Tidak ada pasar takjil yang biasanya saya temui di Malang raya,” kata dia.
Untuk makanan, dia sedikit mengalami kesulitan dalam mencari yang halal. Di kota tersebut, membeli bahan makanan pokok hanya terdapat opsi Walmart.
”Makanan halal jelas lebih mahal di sini. Daging sapi yang biasanya USD 6, kalau halal bisa mencapai USD 8,” sebut Alimin.
Kesulitan itu karena muslim di Pullman adalah agama minoritas.
Muslim di sana kebanyakan berasal dari Asia Selatan, Timur Tengah, dan sebagian Asia Tenggara.
Hal itu tampak pada setiap salat tarawih di Pullman Islamic Center.
Laki-laki dan perempuan di gabung dalam satu ruang ibadah.
Jumlahnya tidak sampai 100 orang. Untuk salat Tarawih di Islamic Center, Alimin menempuh jarak 1 kilometer dari rumahnya.
Biasanya dia menumpang mobil rekannya.
Di bulan puasa, Islamic Center juga menyediakan takjil bagi yang berpuasa.
Menunya lebih banyak bernuansa timur tengah.
Misalnya kurma dan nasi kebuli.
”Tapi puasa perdana kemarin berbuka di rumah,” terangnya.
Lalu bagaimana ibadah seperti salat Jumat? Awal-awal di Pullman, dia kesulitan saat ingin salat di kampus.
Baru sekitar dua pekan lalu, ibadah rutin itu baru dapat dilaksanakan di lingkungan kampus.
Dan untuk salat wajib lima waktu, di sediakan ruangan bernama ’Meditation Room’ atau ruang meditasi.
Itu pun bukan khusus untuk umat muslim.
Siapa saja yang membutuhkan ibadah atau meditasi bisa melakukan di ruangan tersebut.
”Awalnya itu public space saja, namun sejak beberapa tahun lalu sudah banyak permintaan ke kampus agar ruangan itu menjadi ruang peribadatan. Tapi baru akhir-akhir ini disetujui, setelah banyak tekanan dari berbagai pihak,” ujar dia.
Meski namanya ruang meditasi, pada akhirnya lebih banyak dipakai kaum muslimin untuk salat lima waktu.
(biy/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana