Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sebut Zelensky 'Diktator' Hubungan AS-Ukraina Makin Panas

Aditya Novrian • Jumat, 21 Februari 2025 | 21:59 WIB
US President Donald Trump meets with Ukrainian President Volodymyr Zelenskyy at Trump Tower on September 27, 2024 [Julia Demaree Nikhinson/AP Photo] (ALJAZEERA)
US President Donald Trump meets with Ukrainian President Volodymyr Zelenskyy at Trump Tower on September 27, 2024 [Julia Demaree Nikhinson/AP Photo] (ALJAZEERA)

RADAR MALANG - Pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, sebagai 'diktator' pada, (20/2), menuai kontroversi.

Trump mengungkapkan pernyataan tersebut melalui media sosialnya.

"Seorang diktator tanpa pemilu, Zelensky sebaiknya bergerak cepat atau dia tidak akan memiliki negara lagi," tulis Trump.

Pernyataan ini semakin memperburuk hubungan antara AS dan Ukraina di tengah perang yang masih berkecamuk dengan Rusia.

Melansir dari Reuters, sehari sebelumnya, (19/2), Trump juga menyatakan bahwa Ukraina harus disalahkan atas invasi Rusia pada 2022.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran di antara sekutu AS di Eropa, karena pendekatan Trump terhadap konflik Rusia-Ukraina dinilai dapat menguntungkan Moskow.

Selain itu, Trump telah mengubah kebijakan AS terkait perang dengan mengakhiri kampanye isolasi terhadap Rusia melalui panggilan telepon.

Terdapat pembicaraan antara Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin serta komunikasi antara pejabat senior AS dan Rusia yang mengesampingkan Ukraina dari diskusi.

Pernyataan Trump yang menyebut Zelensky sebagai diktator mendapat respons dari berbagai pihak.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menegaskan bahwa tidak ada yang dapat memaksa negaranya untuk menyerah.

"Kami akan mempertahankan hak kami untuk hidup," ujar Sybiha melalui platform media sosial Χ.

Kontroversi ini terjadi di tengah perdebatan mengenai masa jabatan Zelensky.

Secara konstitusional, masa jabatan lima tahunnya seharusnya berakhir pada 2024.

Namun, menurut peraturan di Ukraina, pemilu tidak dapat diadakan selama keadaan darurat militer, yang telah diberlakukan sejak Februari 2022 sebagai respons terhadap invasi Rusia.

Sementara itu, kemarahan Trump dipicu oleh pernyataan Zelensky pada hari Selasa (18/2).

Zelensky menuding Trump telah mengulang-ulang disinformasi Rusia ketika menyatakan bahwa Ukraina "tidak seharusnya memulai" perang.

Invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina sendiri terjadi tiga tahun lalu.

Menanggapi situasi ini, Wakil Presiden AS, JD Vance, pada Rabu memperingatkan Zelensky agar tidak "menjelek-jelekkan" Trump, menandakan ketegangan yang terus meningkat dalam hubungan kedua negara. (ney)

Editor : Aditya Novrian
#amerika serikat #zelensky #ukraina #donald trum