Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang dengan tim perumus, tahun 2026 mendatang, Kepanjen bakal menjadi kota bisnis yang ramah investasi, sekaligus ramah lingkungan. Meski ada lahan pertanian yang bakal dibangun gedung-gedung perkantoran dan pusat bisnis, penghijauan tetap diperhatikan.
Sementara ini, beberapa megaproyek sudah dibangun, meski penuntasannya terhambat pandemi Covid-19. Di antara megaproyek yang sudah dimulai pembangunannya adalah gedung olahraga (GOR) tipe B dan kolam renang bertaraf internasional. Keduanya berada di area Stadion Kanjuruhan, Kepanjen.
Sedangkan untuk megaproyek Alun-Alun Kepanjen yang menjadi penanda keberadaan ibu kota, sempat dianggarkan Rp 60 miliar pada 2020 lalu, namun belum terealisasi. Anggaran itu hanya untuk pengadaan lahan seluas 5 hektare.
Fokus Investasi dan Lingkungan
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang Khairul I Kusuma ST mengatakan, wajah Kepanjen lima tahun ke depan dikonsep sebagai kota yang ramah lingkungan serta ramah investasi. Hal itu tertuang dalam draf revisi Peraturan Daerah (Perda) Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan (RDTRK) di Kepanjen.
Dua hal itulah yang menjadi pedoman dalam pengembangan Kepanjen. “Ramah investasi ini harus digarisbawahi. Yakni ramah investasi tetapi tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku,” terang Khairul, beberapa waktu lalu.
Seperti diketahui, sejak resmi pindah dari domain Kota Malang pada 2008 lalu, hingga kini Kepanjen belum banyak berubah. Itu karena di dalam PP 18 tahun 2008 tentang Pemindahan Ibu Kota Kabupaten Malang dari Wilayah Kota Malang ke Wilayah Kecamatan Kepanjen belum diatur secara detail penataan wajah ibu kota yang baru itu.
Namun langkah-langkah perubahan telah dilakukan oleh pemkab secara bertahap. Di antaranya pemindahan pusat pemerintahan ke Kepanjen plus beberapa kantor organisasi perangkat daerah (OPD) ke jantung kota Kepanjen. Meski begitu, pemindahan kantor perangkat daerah itu belum mampu menunjukkan jati diri ibu kota yang sesungguhnya. Termasuk belum adanya alun-alun yang menjadi penanda sebuah pusat pemerintahan. Dan inilah yang menjadi atensi Bupati Malang Drs H M Sanusi MM di masa pemerintahannya hingga lima tahun ke depan. Yakni menjadikan Kepanjen sebagai ibu kota kabupaten yang sesungguhnya.
Lantas investasi seperti apa yang masuk dalam kategori ramah? Menurut Khairul, penanaman modal yang sifatnya menggerakkan perekonomian yang lebih cepat. Namun bukan skala industri besar yang membawa polusi udara. “Salah satunya bisnis perhotelan,” kata dia.
Lantas bagaimana pula dengan Alun-Alun Kepanjen yang telah digagas sejak 2017 lalu itu? Khairul menerangkan, pembangunan alun-alun akan lebih dimatangkan. Jika sebelumnya terganjal pembebasan lahan, kini bisa jadi lokasinya akan dipindah. Tidak terpaku lagi pada titik yang dirancang sejak awal. “Yang pasti di sekitar pusat perkantoran,” tutur pria yang juga Kabid Penataan Ruang dan Penataan Bangunan DPKPCK tersebut.
Dia mengatakan, penataan wajah ibu kota sangat mendesak karena perkembangan di kawasan Kepanjen tergolong pesat. Salah satunya, rencana pembangunan tol Malang-Kepanjen-Blitar. Jika tol Malang-Kepanjen-Blitar terealisasi, Kepanjen bakal ditopang empat titik exit tol. Yakni exit tol Bululawang, Pakisaji, Pagelaran, dan Kromengan. “Tol Malang-Kepanjen itu sifatnya bukan tol dalam kota, tapi antarwilayah. Sehingga dua exit tol di Kepanjen mengambil titik Pagelaran dan Kromengan,” bebernya.
Sementara itu dari pola ruang, di sekitar titik-titik exit tol tersebut dikonsep untuk menarik investasi. Taman-taman aktif di jantung kota pun akan dibangun sebagai tempat interaksi masyarakat. Sedangkan taman yang sudah ada akan dioptimalkan fungsinya. Salah satunya Taman Puspa di poros jalur lintas barat (jalibar).
Dengan pembangunan yang berjalan pesat itu, katanya, kecamatan-kecamatan lingkar kota juga akan menyesuaikan dengan perubahan. Yang paling dekat dengan Kepanjen adalah Pakisaji. Sedangkan kecamatan lainnya yang juga bakal pesat adalah Lawang, Singosari, Karangploso, Pakis, Tumpang, Tajinan, serta Dau.(nen/fik/dan/rmc)
Editor : Shuvia Rahma