Jawa Pos Radar Malang selama berada di desa berpenghuni 4.184 kepala keluarga tersebut merasakan betapa aura kerukunan dan kekompakan begitu kental. Kampung begitu tertata. Menurut Sekretaris Desa Bambang Purnomo, kebersamaan warga tidak hanya di situ. Misalkan saat malam Idul Fitri, biasanya umat Islam keliling untuk takbiran dengan membawa obor. Namun yang ikut keliling juga dari agama lain. Terutama dari kalangan umat Hindu. Mereka tanpa sungkan ikut keliling takbiran. ”Sejak pandemi ini semua diliburkan, nah untuk tahun ini pasti ramai sebab pemerintah sudah sedikit memberikan kelonggaran,” kata dia.
Untuk diketahui, di Desa Glanggang dihuni warga beragama Hindu, Katolik, Protestan, dan Islam. Khusus di Dusun Karang Tengah, mayoritas umat Hindu. Sehingga di sepanjang jalan, sederet rumah kiri dan kanan terdapat bangunan gapura ala Hindu
Karno, 62, salah satu warga yang beragama Hindu juga menyampaikan soal kerukunan. Menurut dia, apabila ada perkumpulan doa baik syukuran kepada Tuhan, umat Islam pun diundang untuk menghadiri acara tersebut. Begitu pun sebaliknya. Ketika warga muslim ada kegiatan doa bersama atau tahlilan misalnya, umat Hindu juga hadir. Ini sekadar saling menghormati. ”Kami setiap malam ada perkumpulan mas, ya terkadang kami undang, terkadang kami bagi-bagi makanan ke saudara kita muslim,” ceritanya.
Begitu juga umat Islam, pada saat Safari Ramadan, umat Hindu menghadiri acara tersebut menikmati hidangan saat suara adzan berkumandang. “Ramai sekali, seru-seruan kita. Saling guyon karena kami tidak berpuasa tapi ikut buka puasa. Wis senang sekali,” ucap dia sambil tersenyum. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, Dusun Karang Tengah sepanjang jalan nyaris tak ditemukan sampah berserakan. Kondisi itu juga bisa dirasakan di tempattempat pemakaman umum. Mereka sibuk menghias makam yang sudah lusuh untuk dicat ulang.
Selain makam, kondisi rumah umat Islam pun tertata rapi. Terlihat rumah umat Islam baginya seperti rumah yang baru dibangun ulang. Menurut Karno, , mereka sibuk menghias rumah masing-masing sebelum sanak saudaranya berkunjung halal bi halal. “Barangkali ciri khas umat muslim setiap hari raya harus dicat ulang,” ia melanjutkan. ”Pada intinya, setiap ada perayaan seperti hari raya nanti, semua masyarakat bergotong royong membersihkan makam, selokan dan dilanjut membersihkan rumah masing-masing tanpa terkecuali. Gotong royong ini sudah berjalan puluhan tahun lamanya. Semoga kekeluargaan ini tetap terjalin sampai nanti walaupun cara kita berbeda” tutup dia. (abm)
Editor : Mardi Sampurno