Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Antara Emas, Cemas, dan Gemas

B
Penulis: Bayu Mulya Putra❯
Bayu Mulya Putra, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
Bayu Mulya Putra, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

Advertisement

KOTA MALANG, RADAR MALANG - Perasaan lega terpancar dari raut mukanya. ”Insya Allah Agustus tahun ini aman Mas,” begitu kata dia setelah satu tarikan napas yang cukup panjang. Kalimat itu keluar dari salah satu pengurus partai politik di tingkat provinsi. 

Sejak awal Agustus, dia ikut memantau perkembangan di Jakarta. Awalnya dia mendapat kabar bahwa kericuhan pada 2025 lalu berpotensi terulang tahun ini. Setelah beberapa hari memantau, hasilnya membuat dia lega.

Advertisement

Sebab, salah satu informannya menyebut bahwa situasi pada Agustus tahun ini bakal lebih kondusif. Bagi yang samar-samar lupa, kericuhan sempat mewarnai pemberitaan di banyak media massa pada 25 hingga 31 Agustus 2025 lalu. 

Saat itu gelombang unjuk rasa besar terjadi karena akumulasi kabar kurang mengenakkan di tingkat pusat. Mulai dari rencana kenaikan tunjangan anggota DPR hingga beragam kontroversi terkait kebijakan ekonomi. 

Kemarahan publik saat itu memuncak setelah ada tragedi driver ojek online yang tertabrak kendaraan taktis milik polisi. Jejak kelam itu sepertinya membuat cemas para pemangku kepentingan. Bila ditelaah, setidaknya ada dua alasan mereka bisa cemas.

Advertisement

 Baca Juga: Perspektif: Berkelas

Yang pertama, kalau memang terjadi kericuhan, agendanya bisa terganggu. Yang kedua, kecemasan bisa muncul karena adanya simpati atau bahkan empati kepada rakyat. Beruntung, tanda-tanda kecemasan itu tak ditunjukkan para pejabat dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Jumat lalu (14/8).

Narasi utama yang diangkat masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Yakni Program Indonesia Emas 2045. Dalam sambutannya, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyebut program MBG sebagai terobosan penting untuk mewujudkan Generasi Emas 2045.

Tidak terlihat tanda-tanda kecemasan terhadap beragam kritik untuk program itu. Keyakinan di lingkaran pejabat pusat sepertinya memang dibuat sama. Setidaknya harus tampak sama. 

Materi pidato hampir dua jam dari Presiden Prabowo Subianto lebih luas lagi. Data capaian investasi dia sampaikan. Begitu juga dengan program perbaikan sekolah. Klaim terhadap kinerja pemerintahan di bawah komandonya tak lupa disampaikan.

Kata Presiden, dalam 663 hari kepemimpinannya, pemerintah telah memutuskan dan menjalankan 121 kebijakan-kebijakan transformatif untuk menyelesaikan masalah-masalah negara. Klaim itu patut diverifikasi lagi. Pemerintah tampaknya juga perlu menjabarkan beberapa contohnya ke publik. 

Advertisement
Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang

Artikel Terkait

Visiting Lecture dan Program 3 in 1 Diksasindo UB Hadirkan Perspektif Internasional dalam Pengembangan Bahan Ajar BIPA

Visiting Lecture dan Program 3 in 1 Diksasindo UB Hadirkan Perspektif Internasional dalam Pengembangan Bahan Ajar BIPA

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya menyelenggarakan kegiatan Visiting Lecture dan Program 3 in 1 bertajuk “Pengembangan Bahan Ajar BIPA Berbasis Budaya Lokal

Bawa Perspektif Inklusif, Ainur Faqih Tembus Final Duta CBP Rupiah 2026

Bawa Perspektif Inklusif, Ainur Faqih Tembus Final Duta CBP Rupiah 2026

Di tengah ramainya isu literasi keuangan, satu nama dari Malang justru mencuri perhatian dengan cara yang berbeda. Bukan dari kampus, bukan juga dari perbankan—tapi dari dunia siaran. Dia adalah Ainur Faqih.

Hari Pertama Sekolah Tak Perlu Cemas, Begini Cara Agar Siswa Cepat Menyesuaikan Diri

Hari Pertama Sekolah Tak Perlu Cemas, Begini Cara Agar Siswa Cepat Menyesuaikan Diri

Hari pertama di sekolah baru sering kali membuat siswa merasa gugup. Bertemu guru baru, memasuki kelas yang berbeda, hingga harus mencari teman baru menjadi tantangan yang umum dialami.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer