Patung itu digadang-gadang menjadi salah satu unggulan, bahkan ikon Taman Edukasi Berbangsa dan Bernegara milik Lapas Kelas I Malang tersebut. Butuh setidaknya 20 orang narapidana atau warga binaan untuk membuat proyek tersebut. Sampai saat ini semuanya masih berada di dalam Lapas Lowokwaru.
Ketua tim pembuatan patung itu bernama Agung Wicaksono. Saat ditemui Jawa Pos Radar Malang, narapidana berusia 41 tahun itu tampak baru saja selesai melakukan olahraga pagi. Dia mengaku ditunjuk menjadi ketua tim karena memiliki pengalaman pembuatan relief dan beberapa patung di dalam lingkungan penjara selama menjalani masa hukuman. ”Sebenarnya kami tidak punya dasar-dasar dalam dunia seni membuat patung sebelum masuk ke lapas. Saya pun hanya punya pengalaman main-main di seni pengecatan air brush,” kata dia.
Hampir semua tim pembuat konstruksi patung itu adalah rekan-rekan Agung yang menempati blok Siliwangi II. Sebelum diterjunkan untuk membuat patung, semuanya lebih dulu mengikuti program pembinaan kerja. Pada tahap desain, Agung kebagian tugas membuat sketsa dengan mengacu pada hiasan dinding burung garuda yang ada di dinding lapas. Kesulitan pertama pun muncul. Contoh yang dijadikan acuan lebih mirip relief. Sementara yang akan dibangun adalah patung utuh alias monumen. ”Kami harus berimajinasi, bagaimana kalau tidak ada tembok di belakang hiasan burung garuda itu,” kata Agung.
Setelah selesai dengan rumusan fondasi dan penyangga patung di bagian bawah, tim melanjutkan dengan pembuatan desain rangka. Baru kemudian dilanjutkan dengan pembuatan leher dan kepala yang ukurannya sekitar dua meter. Menurut Agung, pembuatan kepala merupakan kunci dalam keberhasilan pembuatan sebuah patung secara keseluruhan. Karena dari kepala itulah, tim bisa menyesuaikan bentuk dan ukuran bahu ke bawah.
Beberapa kali Agung dan kawan-kawan harus bongkar pasang rangka kepala patung sampai posisinya benarbenar presisi. Setelah bentuk kepala dan badan selesai, pekerjaan selanjutnya adalah melengkapi dengan detail seperti burung garuda sesungguhnya, namun dengan sejumlah penyesuaian. Misalnya, bulu ekor yang berjumlah delapan. ”Ini kami buat 16 karena delapan di depan dan belakang. Itu berlaku untuk detail bulu yang lain,” papar pria asal Kabupaten Pasuruan tersebut.
Agung mengatakan, karena posisi patung berada di puncak bukit, hampir setiap saat angin berembus kencang dan membawa debu yang mengganggu pekerjaan. Angin kencang pun bisa merusak patung yang sedang dikerjakan. Selain itu, mulai Juli tahun lalu, sering terjadi hujan deras yang disertai sambaran petir. Sebenarnya ada beberapa tower telepon seluler di sekitar lokasi itu. Namun posisinya berada lebih rendah dari patung tersebut. ”Kami takut petir itu menyambar garapan kami. Sekali waktu, saat kami berteduh, ada bilik bambu punya SAE Ngajum tersambar petir,” kata dia.
Saat ini, pengerjaan patung itu tinggal menyelesaikan detail-detail bagian belakang dan pengecatan, Namun semuanya masih menunggu aba-aba dari kepala lapas yang baru. Agung mengaku sudah gatal untuk kembali mengerjakan proyek tersebut yang ditarget tuntas pada 10 November 2022 ini. Setelah selesai nanti, pihak lapas berencana mendaftarkan monumen tersebut ke MURI sebagai patung Garuda Pancasila terbesar buatan narapidana. “Momen pembuatan patung besar ini sekali seumur hidup, kapan lagi kan?,” ujarnya.
Agung dan tim pembuatan patung itu bukanlah narapidana penerima asimilasi yang boleh tinggal di area SAE Ngajum. Mereka harus kembali ke lapas ketika hari sudah mulai gelap. Setiap hari, mereka berangkat dari penjara yang berada di Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, itu pukul 07.00, kemudian kembali lagi ke lapas sekitar pukul 17.00. (biy/fat) Editor : Mardi Sampurno